Jenis-Jenis Instrumen Penelitian

Instrumen dalam sebuah penelitian dibedakan menjadi dua yaitu bentuk tes dan non tes. Instrumen tes terdiri dari tes psikologis dan tes non-psikologis, sedangkan instrumen non tes teridiri dari angket atau kuesioner, interview atau wawancara, observasi atau pengamatan, skala bertingkat dan dokumentasi. Penjelasan secara rinci akan dibahas sebagai berikut.

Instrumen Tes

Tes dalam lingkup dunia pendidikan merupakan istilah yang sangat populer karena banyak digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik setelah mengalami proses belajar-mengajar. Dilihat dari aspek yang diukur, tes dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tes non-psikologis dan tes psikologis. Jenis tes psikologis dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu tes psikologi yang digunakan untuk mengukur aspek afektif dan tes psikologis yang digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual.

Tes psikologis yang dirancang untuk mengukur aspek afektif atau aspek nonintelektual dari tingkahlaku umumnya dikenal dengan nama tes kepribadian (personality tests). Dalam terminologi pengukuran psikologis, tes kepribadian sering digunakan untuk mengukur karaterstik seseorang seperti pernyataan emosional, hubungan interpersonal, motivasi, minat, dan sikap.

Tes psikologis yang digunakan untuk mengukur aspek kemampuan intelektual disebut dengan tes kemampuan (ability tests). Tes kemampuan dikategorikan menjadi dua, tes bakat (aptitude tests) dan tes kemahiran (proficiency tests).

Menyusun tes harus sesuai prosedur dan melalui proses yang benar. Prosedur yang ditempuh dalam menyusun atau mengembangkan tes kemampuan dalam rangka penelitian pada dasarnya adalah sebagai berikut:

a) Penetapan Aspek yang Diukur

Menetapkan aspek yang hendak diukur merupakan langkah pertama dalam upaya penyusunan atau pengembangan tes. Dalam pengembangan tes hasil belajar, terdapat dua aspek yang mendapat perhatian, yaitu (1) materi pelajaran, dan (2) aspek kepribadian/ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang akan dukur.

b) PendeskripsianAspek yang Diukur

Pendeskripsian aspek yang diukur merupakan penjabaran lebih lanjut dari aspek- aspek yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam proses menyusun tes, deskripsi variabel yang telah ditetapkan tersebut dituangkan dalam bentuk tabel spesifikasi atau lebih dikenal dengan kisi-kisi tes. Di dalam kisi-kisi tes termuat materi pelajaran dan aspek kepribadian yang diukur, bentuk tes dan tipe soal yang digunakan, serta jumlah soal.

c) Pemilihan Bentuk Tes

Bentuk tes merupakan tipe soal dilihat dari cara peserta tes dalam memberikan jawaban soal dan cara peneliti memberikan skor. Jika peserta tes memiliki kebebasan yang luas dalam menjawab soal-soal tes, maka dikatakan bahwa tes itu adalah tes subjektif (free answer tests). Jika peserta tes tidak memiliki kebebasan dalam menjawab soal-soal tes, bahkan hanya tinggal memilih dari jawaban yang telah disediakan oleh peneliti, maka tes itu disebut tes objektif (restricted answer tests). Tes juga dapat dibedakan menjadi tes subjektif dan tes objektif, dilihat dari cara peneliti dalam memberikan skor. Suatu tes disebut tes subjektif berdasarkan cara peneliti memberikan skor apabila skor yang diberikan peneliti dipertimbangkan terlebih dahulu terhadap jawaban peserta tes, kemudian baru didapat perolehan skor dari tes tersebut. Suatu tes disebut tes objektif berdasarkan cara peneliti memberikan skor apabila peneliti memberikan skor secara langsung tanpa harus mempertimbangkan jawaban yang diberikan oleh peserta tes.

d) Penyusunan Butir Soal

Penyusunan butir soal ke dalam suatu tes didasarkan atas bentuk dan tipe soal yang akan dibuat, bukan disusun menurut urutan materi. Butir-butir soal tes objektif dikelompokkan tersendiri, begitu juga dengan soal-soal tes subjektif. Jika dalam tes objektif digunakan beberapa tipe soal (pilihan benar, pilihan kombinasi, dan/atau pilihan kompleks), maka butir-butir soal tes objektif harus disusun berdasarkan tipe soal tersebut.

e) Pelaksanaan Uji Coba

Pelaksanaan uji coba instruman yang berupa tes dilakukan untuk mengetahui
validitas butir soal, tingkat reliabilitas tes, ketepatan petunjuk dan kejelasan bahasa yang digunakan, dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes. Uji coba tes dilakukan pada subjek yang memiliki karakteristik yang identik dengan subjek penelitian yang sesungguhnya (relevan) agar hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

f) Analisis Hasil Uji Coba

Analisis terhadap hasil uji coba tes dilakukan untuk mengetahui secara empirik validitas butir soal dan tingkat reliabilitas tes. Ukuran yang digunakan untuk menilai validitas butir soal adalah indeks kesukaran soal (P) dan indeks daya beda soal (D), sedangkan untuk mengetahui tingkat reliabilitas tes adalah dengan menggunakan koefisien reliabilitas yang biasanya dihitung menggunakan rumus KR-20 atau KR-21 untuk tes objektif dan koefisien Alpha untuk tes subjektif.

g) Seleksi, Penyempurnaan, dan Penataan Butir Soal

Hasil analisis terhadap kualitas butir soal dijadikan dasar peneliti untuk memilih atau menyempurnakan butir soal yang akan digunakan dalam tes. Seleksi atau penyempurnaan butir soal diperlukan karena biasanya selalu ada soal yang tidak memenuhi syarat dilihat dari kriteria tingkat kesukaran dan daya beda soal. Oleh sebab itu, jumlah soal yang ditulis untuk keperluan uji coba selalu harus lebih banyak dari jumlah yang diperlukan. Penataan soal sebaiknya memperhatikan bentuk tes dan tipe soal, serta mengindahkan tingkat kesukaran soal. Soal yang tergolong mudah biasanya berada di bagian paling awal dari tes, sedangkan sebagian lagi ditempatkan di bagian paling akhir dan soal-soal yang tergolong sedan dan sukar ditempatkan di tengah-tengah.
Penataan ini didasarkan atas pertimbangan psikologis pengambil tes.

h) Pencetakan Tes

Pencetakan tes perlu memperhatikan format, jenis, dan model huruf yang akan
digunkanan. Format tes berkaitan dengan tata letak (lay out) dan soal-soal di dalam tes, sedangkan jenis dan model huruf memiliki hubungan yang erat dengan besar dan kejelasan huruf yang digunakan. Pencetakan tes perlu diperhatikan agar penampilan tes menjadi lebih rapi, indah, dan jelas sehingga menarik untuk dikerjakan.

Instrumen Inventori
Inventori merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur karakteristik psikologis tertentu dari individu. Inventori berbeda dengan tes (kemampuan), jika dalam tes (kemampuan) pada umumnya menuntut jawaban yang
dilandasi oleh suatu kemampuan tertentu yang harus dimiliki oleh peserta tes, maka
dalam inventori, jawaban yang diberikan merupakan suatu keadaan yang sewajarnyam
suasana keseharian yang dirasakan dan dialami, atau sesuatu yang diharapkan, sehingga
dalam menjawab pertanyaan/pernyataan di dalam inventori, orang tidak perlu belajar
terlebih dahulu. Prosedur dalam menyusun inventori ada 8 tahapan, yaitu:
a) Penetapan Konstruk yang Diukur
Konstruk pada inventori menunjuk pada hal-hal yang pada dasarnya tidak dapat diamati secara langsung, seperti persepsi, minat, motivasi, sikap, dan sebagainya.
Penetapan konstruk yang akan diukur merupakan kegiatan mengidentifikasi variabel
penelitian yang datanya akan diambil dengen menggunakan inventori. Misal, variabel
yang akan diteliti adalah “sikap nasionalisme siswa di SMA”. Dari variabel penelitian
ini dapat diidentifikasi bahwa konstruk yang akan diukur adalah sikap. b) Perumusan

Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat yang
didefinisikan sehingga dapat diamati. Ukuran dapat diamati tersebut menjadi penting, karena hal yang dapat diamati itu membuka kemungkinan bagi orang lain selain peneliti untuk melakukan hal yang serupa, sehingga apa yang dilaksanakan oleh peneliti terbuka untuk diuji kembali oleh orang lain (replikabilitas). Perumusan definisi operasional variabel penelitian yang berupa konstruk lebih bervariasi dan kompleks ketimbang pada proses perumusan definisi operasional dalam menyusun tes, karena ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk menyusunnya.

Cara-cara tersebut adalah: (1) yang menekankan pada kegiatan apa yang dilakukan agar konstruk yang didefinisikan itu terjadi, (b) yang memberi aksentuasi kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, dan (c) yang menitik beratkan pada sifat-sifat stasis dari konstruk yang didefinisikan (Suryabrata, 84 dalam Sukarnyana dkk, 2003:80).

c) Pendeskripsian Konstruk

Pendeskripsian konstruk bertujuan untuk menujukkan secara rinci mengenai isi
konstruk (variabel) yang hendak diukur. Untuk mempermudah penyusunan pernyataan dalam inventori, umumnya peneliti menuangkan deskripsi konstruk (variabel) tersebut ke dalam bentuk matrik. Contoh dari deskripsi konstruk (variabel) yang dimaksudkan dan matriknya dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Deskripsi Variabel Sikap Nasionalisme

Konstruk Variabel Sub-variabel Indikator
Sikap Sikap Cinta dan 1. Gemar menggunakan bahasa Indonesia
nasionalisme bangga sebagai 2. Suka produksi dalam negeri
siswa di SMA bangsa 3. Mengembangkan kebudayaan nasional
indonesia
Rela berkorban 1. Mengutamakan kepentingan
untuk umum/bangsa
kepentingan 2. Bersedia mengikuti WAMIL
nasional 3. Mau bekerja di seluruh wilayah Indonesia
Memelihara 1. Toleransi
persatuan dan 2. Bersedia menerima perbedaan SARA
kesatuan 3. Bersedia ikut dalam program pertukaran
bangsa pemuda

d) Penulisan Butir Pernyataan

Menyusun butir-butir pernyataan (items) dalam inventori langkah kritis, karena
dari pernyataan-pernyataan ini merupakan langkah yang kritis, karena dari pernyataan- pernyataan inilah akan dihasilkan data yang diperlukan oleh peneliti. Kualitas pernyataan yang dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan pengetahuan yang bersifat teoritis, tetapi harus didukung oleh latihan yang terarah, pengalaman yang cukup, kreativitas dan kesungguhan, disamping faktor kiat yang dimiliki oleh masing- masing peneliti.

e) Pelaksanaan Uji Coba

Kegiatan uji coba instrumen dalam proses penyusunan inventori dimaksudkan
untuk mengetahui validitas butir pernyataan, tingkat reliabilitas inventori, ketepatan petunjuk dan kejelasan bahasa yang digunakan, dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pengerjaan inventori tersebut oleh responden. Teknik yang digunakan untuk menguji validitas butir pernyataan dan mengestimasi tingkat reliabilitas instrumen inventori berbeda dengan tes, karena pemberian skor pada inventori bersifat bergradasi. Subjek uji coba inventori haruslah memiliki karakteristik yang sama atau identik dengan subjek penelitian. Mengenai jumlah subjek yang diperlukan untuk keperluan uji coba tersebut berlaku rumus umum yang menyatakan bahwa semakin banyak subjek maka akan semakin baik dan seminimal-minimalnya adalah tidak kurang dari 30 subjek.

f) Analisis Hasil Uji Coba

Analisis hasil uji coba jawaban responden tidak dapat dinilai benar atau salah,
melainkan bergradasi, oleh sebab itu validitas butir pernyataan hanya didasarkan atas indeks daya beda soal. Sedangkan perhitungan indeks daya beda soal ini dapat menggunakan teknik analisis korelasi atau uji beda nilai rata-rata. Selanjutnya, estimasi tingkat reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan rumus penghitungan koefisien Alpha dari Cronbach.

g) Seleksi, Penyempurnaan, dan Penataan Butir Soal
Butir pernyataan yang tidak valid perlu diganti, sedangkan yang kurang valid
masih dapat dipakai setelah disempurnakan, kemudian barulah dilakukan penataan butir
pernyataan. Hal penting yang perlu ditambahkan dalam penyusunan inventori adalah
kata pengantar. Kata pengantar umumnya berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan
dilaksanakannya penelitian. Hal ini penting untuk menghilangkan ketidakpastian,
kecurigaan, dan kekhawatiran dalam diri responden, sehingga mereka akan
bersediamemberikan jawaban sebagaimana yang diharapkan.Rekomendasi dari instansi
yang berwenan juga dapat dicantumkan sebagai kelengkapan isi kata pengantar. Selain
9
itu, jaminan akan kerahasiaan pribadi dan informasi yang diberikan responden penting
juga untuk diutarakan pada bagian pengantar. Bagian akhir biasanya berisi ucapan
terima kasih atas kesediaan responden untuk membantu menyukseskan pelaksanaan
penelitian.
h) Pencetakan Inventori
Pencetakan inventori sama seperti halnya pencetakan tes, perlu memperhatikan
format, jenis, dan model huruf yang akan digunkanan. Format inventori berkaitan
dengan tata letak (lay out) dan soal-soal di dalam tes, sedangkan jenis dan model huruf
memiliki hubungan yang erat dengan besar dan kejelasan huruf yang digunakan.
Pencetakan inventori perlu diperhatikan agar penampilan inventori menjadi lebih rapi,
indah, dan jelas sehingga menarik untuk dikerjakan oleh responden.

Angket atau Kuesioner
Angket aau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal- hal yang ia ketahui. Kuesioner banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dan
penelitian sosial yang menggunakan rancangan survei, karena ada beberapa keuntungan
yang diperoleh. Pertama, kuesioner dapat disusun secara teliti dalam situasi yang tenang
sehingga pertanyaaan-pertanyaan yang terdapat di dalamnya dapat mengikuti sistematik
dari masalah yang diteliti. Kedua, penggunaan kuesioner memungkinkan peneliti
menjaring data dari banyak responden dalam periode waktu yang relatif singkat.
Penyusunan instrumen angket atau kuesioner hampir sama dengan penyusunan
inventori. Bedanya pada langkah kelima, yaitu pelaksanaan uji coba dalam kuesioner
bukanlah untuk menguji validitas butir pertanyaan secara statistik, melainkan untuk
mengetahui kejelasan petunjuk pengerjaan, kekomunikatifan bahasa yang digunakan,
dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menjawab semua pertanyaan secara baik.

Interview atau Wawancara
Interview atau wawancara adalah percakapan orang-perorang (the person–to- person) dan wawancara kelompok (group interviews). Percakapan dilakukan dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu peneliti sebagai pewawancara dan subjek penelitian sebagai informan (Ulfatin, 2014:189). Wawancar yang dilakukan oleh peneliti digunakan untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.

Wawancara dalam penelitian dapat dilakukan secara berentang mulai dari situasi formal sampai dengan informal, atau dari pertanyaan yang terstruktur sampai dengan tidak terstruktur. Ilustrasi situasi wawancara sebagaiman pada Gambar 2.1.
Terstruktur Tidak Terstruktur
——————————————- I ———————————————- 
Ciri-cirinya: Gabungan Ciri-cirinya

  • Kata-kata dalam pertanyaan – Pertanyaan sangat terbuka
    sudah ditentukan (open ended)
  • Pilihan jawaban sudah terfokus – Pertanyaan sangat fleksibel – Bentuk sejenis angket – Bentuk percakapan manasukan
  • Situasi sangat formal – Situasi tidak formal
    Gambar 2.1 Rentangan Wawancara
    (Sumber Ulfatin, 2014:189)
  1. Observasi atau Pengamatan
    Observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung, observasi dapat
    dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi
    berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Pedoman
    observasi atau pengamatan diperlukan terutama jika peneliti menerapkan pengamatan
    terfokus dalam proses pengumpulan data. Dalam pengamatan terfokus peneliti
    memusatkan perhatiannya hanya pada beberapa aspek perilaku atau fenomena yang
    menjadi objek sasarannya.
    Penyusunan pedoman pengamatan yang perlu dilakukan diantaranya 1)
    menetapkan objek yang akan diamati; 2) merumuskan definisi operasional mengenai
    objek yang akan diamati; 3) membuat deskripsi tentang objek yang akan diamati; 4)
    membuat dan menyusun butir-butir pertanyaan singkat tentang indikator dari objek yang
    diamati; 5) melakukan uji coba; dan 6) menyempurnakan dan menata butir-butir
    11
    pertanyaan ke dalam satu kesatuan yang utuh dan sistematis. Namun untuk uji coba
    bukanlah untuk menguji kevalidan butir pertanyaan dengan menggunakan teknik analisis
    statistik, melainkan untuk mengetahui kejelasan rumusan masalah pertanyaan yang
    ditunjukkan dengan adanya kesamaan penafsiran oleh pengamat terhadap objek yang
    sama.
  2. Skala Bertingkat
    Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif yang dibuat berskala.
    Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan
    informasi tertentu tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah
    memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan
    tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat. Di dalam menyusun skala,
    yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang
    ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden.
  3. Dokumentasi dan Data Sekunder
    Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di
    dalam melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki hal-hal berupa
    transkip, catatan, buku, surat, prasasti, notulen rapat, agenda, arsip, jurnal, video dan
    sebagainya.
    Penggolongan dokumen dan data sekunder menurut Johnson dan Christensen
    (2004) diantaranya:
    a) Dokumen resmi, yaitu bahan atau catatan yang dibuat atau disusun secara formal
    baik untuk kepentingan dan keperluan internal maupun eksternal kelembagaan.
    b) Dokumen pribadi, yaitu catatan atau bahan yang ditulis atau dibuat oleh
    seseorang yang menggambarkan pengalaman, peristiwa, dan atau perasaan
    seseorang individu atau pribadi. Yang termasuk dokumen pribadi contohnya
    buku harian, surat pribadi, riwayat hidup, foto/video pribadi, dan sebagainya.
    c) Data fisik, dalam hal ini termasuk di dalamnya tempat-tempat dan benda fisik
    yang diperuntukkan sebagai alat untuk menelusuri bermacam-macam aktivitas.
    Misalnya perpustakaan, museum, papan pengumuman dan yang lain.
    12
    d) Data penyelidikan yang di simpan, yaitu data hasil penelitian yang dapat
    digunakan untuk penelitian berikutnya. Data hasil penelitian ini biasanya
    disimpan dalam bentuk printout atau floppy disk atau CD-ROM.

Comments

Leave a Reply