Rumusan masalah penelitian secara umum adalah ide utama dari sebuah penelitian kuantitatif. Poin ini yang dijabarkan dalam mencari solusi, menyusun hipotesis, menyelesaikan masalah melalui penelitian, menganalisis data sampai pada akhirnya menarik kesimpulan.
Daftar isi
Rumusan Masalah Penelitian
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.
A. Jenis Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan variabelnya.
1. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah masalah yang hanya terdiri dari variable tunggal. Variabel ini menjadi topik utama yang akan diukur kemudian dideskripsikan.
Contoh Rumusan masalah deskriptif:
- Bagaimana daya beli warga kabupaten Gowa?
- Bagaimana gambaran minat belajar siswa SMA Negeri 1 Medan?
Jawaban Rumusan masalah deskriptif dapat dilakukan melalui analisis statistik deskriptif untuk tendesi pusat data seperti rata-rata, simpangan baku, rata-rata taksiran, distribusi frekuensi data, dan sejenisnya. Rumusan masalah ini juga bisa diuji dengan uji inferensi jika syarat uji terpenuhi.
2. Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah yang menghubungkan dua variabel atau lebih. Penelitian dengan rumusan masalah asositaif terbagi atas dua jenis yakni
- Penelitian kolerasi dimana tidak ada keterangan pasti antara variabel mana yang mempengaruhi variabel lain.
- Penelitian regresi jika arah pengaruh dari variabel jelas tidak berlaku sebaliknya.
Contoh rumusan masalah asosiatif:
- Seberapa besar hubungan antara motivasi belajar terhadap hasil belajar peserta didik.
- Apakah terdapat hubungan positif signifikan antara keterampilan proses sains dan hasil belajar peserta didik?
Kedua variabel dalam rumusan masalah ini sama-sama berasal dari skala interval dan rasio.
3 Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang digunakan untuk membandingkan dampak dari dua buah variabel berbentuk nomina. Proses membandingkan variabel ini membutuhkan variabel yang sama dengan bentuk interval.
Contoh rumusan masalah komparatif sebagai berikut:
- Apakah terdapat perbedaan tingkat produktivitas antara karyawan di Perusahaan NVidia dan karyawan di perusahaan ATI Radeon?
- Apakah terdapat positif yang signifikan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model PjBL dan model PBL?
Lebih khusus lagi, dua variabel ini harus berada pada level yang sama.
B. Fungsi Rumusan Masalah
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu
Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan
fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
C. Kriteria
Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu
Kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusia.
Kriteria Kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.
Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.
POSISI/PENEMPATAN
Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain
Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti,
Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian
Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.
Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada.
Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.