Makalah Rumpon Ikan

Rumpon Ikan

Bab I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Salah satu sumberdaya ikan yang memiliki potensi dan nilai ekonomis cukup tinggi di Sulawesi Tenggara adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis). Ikan cakalang adalah salah satu jenis ikan pelagis besar, dimana untuk Sulawesi Tenggara tertangkap terutama dengan troll line (pancing tonda)Beberapa daerah penangkapan ikan cakalang di Sulawesi Tenggara adalah di Perairan Menui, dan Perairan Wawonii (Selanjutnya disebut “Perairan Timur Laut Sulawesi Tenggara”). Produksi ikan cakalang dari perairan tersebut terekam dalam catatan Statistik Perikanan Kota Kendari (termasuk PPS Kendari), Kabupaten Konawe,. Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian tentang tingkat pemanfaatan dan status sediaan sumberdaya ikan cakalang di Perairan Timur Laut Sulawesi Tenggara. Melalui studi pendahuluan dengan menggunakan data lima tahun terakhir (2007-2011), rata-rata 69,5% dari total produksi ikan layang di tiga Kabupaten/Kota tersebut di daratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari.

Dipandang dari aspek ekonomi dapat dikatakan bahwa perairan laut timur sulawesi tenggaramemiliki potensi sumberdaya perikanan yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya berbagai jenis ikan, kerang- kerangan, rumput laut dan komoditi perikanan lainnya dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Dalam menentukan keberhasilan usaha penangkapan ikan pada dasarnya adalah bagaimana menganalisis daerah penangkapan, gerombolan ikan, dan potensinya yang kemudian dilakukan operasi penangkapan ikan. Nelayan sebagai tenaga kerja yang terlibat langsung dalam kegiatan penangkapan ikan di laut, memegang peranan yang penting dalam upaya penyediaan protein hewani. Alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan Palabuhan PPS kendari salah satunya adalah pancing tonda dengan alat bantu rumpon di gunakan ada 2 macam rumpon bambu dan rumpon daun kelapa.

Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di perairan laut timur sulawesi tenggara yang berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul di wilayah penangkapan ikan dimana rumpon tersebut dipasang. Tujuan pemasangan rumpon yaitu untuk memikat ikan agar singgah dan berkumpul di sekitar rumpon sehingga dapat mempermudah nelayan untuk menentukan wilayah atau daerah penangkapannya. Menurut Monintja (1992) diacu dalam Jungjunan (2010) menyatakan bahwa manfaat penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan adalah mengurangi waktu dan bahan bakar dalam pengejaran kelompok ikan, meningkatkan hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan, meningkatkan hasil tangkapan ditinjau dari spesies dan komposisi ukuran.

Hasil tangkapan yang di dapatkan oleh pancing rumpon yaitu komoditas Tuna. Tuna merupakan komoditas perikanan yang digemari baik pasar lokal, regional maupun pasar internasional dan memiliki nilai jual yang tinggi. Selain alat tangkap tunalong line, pancing rumpon termasuk salah satu alat tangkap yang menjadikan ikan tuna sebagai hasil tangkapan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena komoditi tuna yang tertangkap dalam keadaan segar dan kulitnya tidak tergores. Adapun pustaka yang membahas mengenai efektivitas rumpon terhadap hasil tangkapan yaitu Jeujanan (2008) yang menunjukan bahwa rumpon merupakan salah satu alat bantu penangkapan ikan yang mempunyai efektivitas hasil tangkapan yang baik, karena hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan rumpon umumnya lebih banyak dibandingkan dengan nelayan yang tidak mengunakan rumpon. Pustaka lainnya yaitu tentang pengoperasian pancing tonda pada rumpon di selatan Teluk Palabuhan PPS kenndari sulawesi tenggara oleh  andi manojoeng (2011) menyatakan bahwa pengoperasian pancing tonda di sekitar rumpon APBN memperoleh hasil tangkapan yang memiliki nilai catch rate terbesar yaitu dengan berat total hasil tangkapan 46.5 Kg dengan didominasi oleh ikan cakalang dan mandidihang. Dominasi hasil tangkapan ikan cakalang dan ikan madidihang dikarenakan ikan tuna dan sejenis tuna pada umumnya ditemukan pada schooling campuran yang terdiri dari dua atau lebih spesies, namun ukuran dari masing-masing ikannya relatif sama (Nakamura 1969 diacu dalam Hendriana 2007), sedangkan menurut Ma’arif (2011) pemasangan rumpon adalah untuk mengumpulkan ikan tuna agar mudah ditangkap dengan menggunakan pancing tonda. Mengingat pentingnya hasil tangkapan pancing tonda di rumpon maka diperlukan pengoperasian yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, dalam penelitian ini mencoba untuk menganalisis tentang efektivitas alat tangkap pancing tonda di rumpon yang digunakan oleh nelayan dan hasil tangkapan yang diperoleh di PPS Palabuhan perikanan samudara

1.2  Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi dan tingkat pemanfaatan ikan tuna di Perairan Timur Laut Sulawesi Tenggara .

1.3  Manfaat penelitian

Manfaat penelitian ini adalah menghasilkan informasi sebagai dasar perumusan pengelolaan perikanan tangkap yang rasional serta saran atau kepada para pengambil kebijakan mengenai kegiatan penangkapan ikan cakalang di Perairan Timur Laut Sulawesi Tenggara.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2.1Pengertian Perikanan

Menurut Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 direvisi undang-undang nomor 45 tahun 2009, Pengertian perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengelolaan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu bisnis perikanan. Perikanan tangkap adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan binatang dan tanaman air, baik di laut maupun di perairan umum secara bebas (Inizianti 2010).

2.2.2Unit Penangkapan Ikan

Komponen utama dari suatu perikanan tangkap adalah unit penangkapan ikan yang terdiri dari kapal, alat tangkap, dan nelayan.

2.2,3Kapal pancing tonda di Sulawesi tenggara

Kapal penangkapan ikan berguna sebagai alat transportasi yang membawa seluruh unit penangkapan ikan menuju fishing ground atau daerah penangkapan ikan, serta membawa pulang kembali ke fishing base atau pangkalan beserta hasil tangkapan yang diperoleh. Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Palabuhan PPS samudara pada tahun 2013 sebanyak 401 buah ( andi 2013)

Gambar 1 : kapal pancing tonda ( panongkol) di pps kendari

2.4    Nelayan

Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan.Berdasarkan daerah asalnya, nelayan yang ada di wilayah Palabuhan samudara dikategorikan sebagai nelayan asli dan nelayan pendatang. Nelayan asli adalah penduduk setempat yang telah turun-temurun berprofesi sebagai nelayan, sedangkan yang dimaksud nelayan pendatang adalah nelayan yang berasal dari luar wilayah Palabuhan samudara. Dilihat dari sisi waktu kerja, nelayan di Palabuhan samudaradikelompokkan menjadi nelayan penuh dan nelayan sambilan. Nelayan penuh adalah nelayan yang sehari-harinyaberprofesi sebagai nelayan, sedangkan nelayan sambilan merupakan nelayan yang hanya pada waktu-waktu tertentu saja melakukan pekerjaan penangkapan ikan. Nelayan di Palabuhansamudara juga dibedakan menjadi nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik yaitu orang yang memiliki armada penangkapan ikan atau disebut juragan, sedangkan nelayan buruh adalah orang yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) (Ekasari 2008).

2.2.4     Alat Tangkap

Alat tangkap ikan adalah alat yang digunakan untuk menangkap atau mengumpulkan ikan (Diniah 2008).Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan rumpon di perairan Palabuhan diantaranya adalah pancing tonda, pancing ulur, pancing layangan, (Jungjunan 2009).

2.2.4     Pancing Tonda

Alat tangkap pancing tonda merupakan alat tangkap utama yang digunakan untuk memancing ikan umpan buatan. Operasi alat tangkap pancing tonda ini ditarik dengan kapal dan operasi penangkapan dilakukan diburitan kapal. Alat tangkap ini hanya terdiri dari kail yang memiliki umpan buatan yang terbuat dari benang warna-warni dan tali nilon multifilamen. Kail yang digunakan memiliki ukuran no tujuh atau delapan dan tali yang digunakan memiliki ukuran no 100. Ketika dioperasikan, nelayan memegangi tali dan melakukan tarik ulur dan panjang tali yang digunakan cukup jauh dari kapal  (Jungjunan 2009).

Operasi penangkapan pada waktu pagi hari (pukul 05.00-07.00 WIB) jarak antar rumpon dengan lokasi menonda 30-35 meter, dengan panjang tali pancing yang ditonda sekitar 20 meter dan kecepatan perahu rata-rata 4-5 knot. Pada pukul tujuh sampai pukul sembilan, jarak rumpon dengan lokasi menonda sekitar 50-100 meter dengan panjang tali 45-60 meter dengan kecepatan perahu 7-8 knot, sedangkan pada siang hari jarak antara rumpon dengan lokasi menonda mencapai 180 meter dengan panjang tali 45-60 meter dan kecepatan rata-rata kapal 7-8 knot (Nugroho 1992 diacu dalamJungjunan 2009)

Gambar 2 : pancing tonda

2.2.5     Pancing Ulur

Pancing ulur atau hand line adalah suatu konstruksi pancing yang umum digunakan oleh nelayan, khususnya nelayan yang berskala kecil (small scale fishery). Pada umumnya komponen-komponen pembentuk pancing ulur terdiri atas tali utama (main line) dan tali cabang (branch line) yang terbuat dari bahan PAmonofilament, swivel yang terbuat dari besi putih, mata pancing (hook) yang terbuat dari besi, dan pemberat (sinkers) yang terbuat dari timah (Subani dan Barus 1989 diacu dalam Inizianti 2009). Umpan yang digunakan pada pancing ulur adalah layang (Decapterus sp.), kembung(Rastrelliger sp.) dan cumi-cumi (Loligo sp.) segar (Saputra 2002).

Menurut Ayodhyoa (1981) diacu dalam Inizianti (2010), pengoperasian pancing ulur adalah dengan mengaitkan umpan pada mata pancing yang telah diberi tali dan menenggelamkannya ke dalam air. Ketika umpan dimakan ikan, maka mata pancing akan tersangkut pada mulut ikan dan pancing ditarik ke perahu. Kapal yang biasa digunakan dalam pengoperasian alat tangkap handline adalah kapal atau perahu kayu tradisional, bisa juga dengan kapal motor tempel (Inizianti 2010).

Gambar 3 : pancing ulur

2.2.6 Umpan buatan

Umpan yang digunakan adalah umpan buatan. Umpan buatan yang biasa digunakan adalah kain sutra berwarna warni maupun bahan sintetis kaleng oli kaleng sabung ,yang menyerupai aslinya. Bentuk umpan buatan. Umpan hidup jarang sekali digunakan pada operasi penangkapan dengan pancing tonda karena sifat umpan hidup yang mudah rusak cepak lepas ketika operasi penangkapan sedang berlangsung (Admin 2010). Umpan yang telah dimakan ikan, maka mata pancing akan tersangkut pada mulut ikan dan pancing ditarik ke perahu (Subani dan Barus 1989).

Gambar 4 : umpan buatan bahan sintetis

Gambar 5 : umpan buatan bahan kain sutera warna warni

Pengoperasian alat tangkap ini diawali dengan penurunan umpan buatan ke perairan, barulah layangan diterbangkan. Layangan diterbangkan dengan arah menyamping agar umpan menyusur di permukaan air (Jungjunan 2009).

2.2.7Alat Bantu Penangkapan Ikan (Rumpon)

            Rumpon merupakan alat bantu penangkapan yang digunakan dalam pengoperasian unit penangkapan ikan handline dan pancing tonda. Terutama pada unit penangkapan ikan di Teluk Palabuhan (Inizianti 2010).Definisi rumpon menurut Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan di perairan laut. Penggunaan dan penelitian rumpon untuk memikat ikan sudah dimulai sejak tahun 1900-an. Rumpon biasanya dijadikan alat bantu penangkapan karena alat ini hanya dijadikan sebagai tambahan yang digunakan sabagai pengumpul ikan pada suatu tempat alat titik untuk kemudian dilakukan operasi penangkapan berdasarkan alat tangkap yang dikehendaki (Subani 1986).

Prinsip suatu penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu rumpon adalah untuk mengumpulkan ikan, sehingga nantinya ikan akan lebih mudah ditangkap. Diduga ikan tertarik dan berkumpul disekitar rumpon karena rumpon berfungsi sebagai tempat untuk berlindung dan mencari makan. Adanya ikan disekitar rumpon menciptakan suatu hubungan makan dan dimakan, dimulai dengan tumbuhnya bakteri dan mikroalga sejak rumpon dipasang diperairan (Subani 1986 diacu dalam Octavianus  2005).

            Ada beberapa prediksi mengapa ikan senang berada di sekitar rumpon (Sudirman dan Mallawa 2004 diacu dalam Wahyudin 2007) :

  1. Rumpon tempat berkumpulnya plankton dan ikan kecil lainnya sehingga mengundang ikan-ikan yang lebih besar untuk tujuan feeding.
  2. Merupakan suatu tingkah laku dari berbagai jenis ikan untuk berkelompok disekitar kayu terapung seperti jenis-jenis tuna dan cakalang. Dengan demikian, tingkah laku ini dimanfaatkan untuk tujuan penangkapan.

Kepadatan gerombolan ikan pada rumpon diketahui oleh nelayan berdasarkan buih atau gelembung-gelembung udara yang timbul di permukaan air, warna air yang gelap karena pengaruh gerombolan ikan atau banyaknya ikan kecil yang bergerak di sekitar rumpon. Tujuan penggunaan Agus 2005 diacu dalam Wahyudin 2007 adalah : rumpon di lingkungan perairan laut menurut

1)   Meningkatkan produksi perikanan

2)   Meningkatkan produksi perikanan komersial

3)   Lokasi produksi akuakultur

4)   Lokasi rekreasi pancing

5)   Mengontrol daya recruitment sumberdaya ikan

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menilai prospek penggunaan rumpon menurut Monintja 1990 diacu dalam Sianipar 2003 antara lain :

  1. Ketersediaan bahan baku rumpon
  2. Daya tahan rumpon terhadap berbagai kondisi periran
  3. Kemudahan operasi penangkapan

Posisi rumpon yang terbaik adalah tempat yang dikenal sebagai lintasan ruaya ikan, daerahupwelling, water fronts, arus eddy, dasar perairan yang datar, tidak dekat dengan karang dan berada di ambang suatu palung laut (Desan 1982 diacu dalam Sianipar 2003).

Monintja (1990) vide Sianipar (2003), menyatakan bahwa manfaat yang didapat dari penggunaan rumpon adalah sebagai berikut :

  1. Efisiensi waktu dan bahan bakar dalam pengintaian
  2. Meningkatkan hasil tangkapan persatuan upaya penangkapan
  3. Meningkatkan mutu hasil tangkapan yang ditinjau dari spesies dan komposisi ukuran ikan.

2.2.8        Fungsi Rumpon

Rumpon dalam penangkapan ikan berfungsi sebagai alat untuk menarik perhatian agar ikan berkumpul pada suatu wilayah sebagai tempat berlindung dan merupakan sumber makanan tambahan bagi ikan-ikan. Pengumpulan ikan-ikan dengan rumpon umumnya untuk ikan-ikan bermigrasi yang secara tidak sengaja melewati keberadaan rumpon dan tertarik untuk diam atau beruaya di sekitar rumpon untuk mencari makan, berlindung atau tujuan lainnya baik untuk sementara maupun permanen (Wahyudin 2007).

            Prinsip suatu penangkapan ikan dengan rumpon disamping berfungsi untuk mengumpulkan ikan, pada hakekatnya adalah agar kawanan ikan tersebut mudah ditangkap dengan alat tangkap yang dikehendaki. Diduga ikan yang tertarik dan berkumpul di sekitar rumpon karena rumpon berfungsi sebagai tempat berlindung dan mencari makan (Subani 1986 diacu dalam Wahyudin 2007).

2.2.9        Konstruksi Rumpon

Tim Pengkaji Rumpon Institut Pertanian Bogor (1987) diacu dalam Jeujanan (2008) mengemukakan bahwa persyaratan umum komponen-komponen dari konstruksi rumpon adalah:

  1. Pelampung (float); mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung di atas 1/3 bagian), konstruksi cukup kuat, tahan terhadap gelombang, mudah dikenali dari jarak jauh dan bahan pembuatnya mudah diperoleh.
  2. Pemikat (Attractor); mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan, tahan lama, mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah dan terbuat dari bahan yang kuat, tahan lama dan murah.
  3. Tali-temali (rope); terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah busuk, harga relatif murah, mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-benda lainnya dan terhadap arus dan tidak bersimpul.
  4. Pemberat (sinker); bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh serta masa jenisnya besar, permukaannya tidak licin dan dapat mencengkram

2.3.1Informasi Mengenai Tingkah Laku Ikan di Sekitar Rumpon

Pengembangan usaha dibidang penangkapan ikan, maka sangat dibutuhkan pengetahuan tentang tingkah laku ikan yang akan ditangkap. Pengetahuan tentang tingkah laku ikan terutama faktor makanan, bagaimana ikan disekitar rumpon makan menjadi informasi penting dalam keberhasilan penangkapan.

Menurut Asikin (1985) diacu dalam Jeujanan (2008), ada beberapa pendapat tentang keberadaan ikan di sekitar rumpon yaitu:

  1. Ikan-ikan itu senang bersembunyi di bawah bayang-bayang daun rumpon;
  2. Rumpon itu sebagai tempat berpijah bagi beberapa jenis ikan tertentu;
  3. Rumpon sebagai tempat berteduh bagi beberapa jenis ikan tertentu;
  4. Rumpon itu sebagai tempat berteduh bagi beberapa jenis ikan yang mempunyai sifat fototaksis negatif.

2.3.2  Mekanisme Pengumpulan Ikan dengan Rumpo

Rumpon merupakan suatu tropic level yang lengkap yang terdiri atas fitoplankton sebagai produsen sampai dengan predator sebagai konsumen. Oleh karena itu, berbagai jenis ikan tertarik untuk berkumpul disekitar rumpon, mulai dari ikan pelagis kecil sampai ikan pelagis besar yang didominasi oleh tuna dan cakalang (Monintja dan Zulkarnain 1995 diacu dalam Ardianto 2005).

            Menurut Bergstrom (1983) diacu dalam Imawati (2003) rumpon merupakan suatu arena makanan. Awal terjadinya arena tersebut adalah timbulnya bakteri dan mikroalga ketika rumpon pertama kali dipasang. Makhluk renik tersebut bersama hewan-hewan kecil menarik perhatian ikan pelagis ukuran kecil. Terakhir adalah giliran ikan pelagis kecil yang akan memikat ikan pelagis besar sehingga di sekitar rumpon didapatkan adanya gerombolan ikan yang datang untuk keperluan makan.

Konstruksi berbagai jenis rumpon yang ter dapat di perairan timur laut disulawesi tenggara

Gambar 7. Rumpon dengan struktur rakit bambu diperairan menui Sulawesi tengah

Gambar 8 : rumpon daun kelapa di perairan wawonii kab kepulauan konawe

2.3.3 Peraturan Pemasangan Rumpon

  1. Pemasangan rumpon tidak hanya menimbulkan efek positif dengan meningkatkan produksi perikanan. Akibat dari pemasangan rumpon yang tidak teratur dan lokasi penangkapan yang berdekatan dapat merusak pola ruaya ikan yang bermigrasi. Kondisi tersebut dapat merusak keseimbangan ekosistem dan menimbulkan konflik baik antar nelayan rumpon maupun antar nelayan rumpon dengan nelayan lainnya selain nelayan rumpon. Selain itu kemudahan menangkap ikan di sekitar rumpon dapat mengakibatkan overfishing (Juklak Petunjuk Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon 2006 diacu dalam Jungjunan 2009).

Berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004, berikut merupakan tata cara pemasangan rumpon:

  1. Rumpon dapat dipasang diwilayah:
  1. Perairan dua mil laut sampai denga empat mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah.
  2. Perairan diatas empat mil laut sampai dengan 12 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surutterendah.
  3. Perairan diatas 12 mil laut dan ZEE Indonesia.
  4. Perorangan atau perusahaan berbadan hukum yang akan memasang rumpon wajib terlebih dahulu memperoleh ijin.
  5. Pengusaha atau nelayan yang akan memasang rumpon mengajukan permohonan izin kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi atau Kabupaten atau Kota sesuai dengan kewenangan pemberi izin. Sesuai dengan Kepmen Kelautan dan Perikanan No. Kep 30/MEN/2004 tentang pemasangan dan pemanfaatan rumpon

2.3.4 Daerah dan Musim Penangkapan Ikan

Daerah penangkapan ikan (fishing ground) merupakan daerah dimana operasi penangkapan ikan berlangsung yang diduga tempat ikan-ikan bergerombol. Ikan merupakan organisme yang bersifatmobile, artinya ikan sering berpindah-pindah tempat yang menyebabkan sulitnya menentukan arah dan letak dari daerah penangkapan ikan. Tuna hidup di daerah perairan seperti : pertemuan antara dua arus yang terjadi front, terjadinya upwelling, konvergensi, dan divergensi yang merupakan daerah berkumpulnya plankton, temperatur perairan optimum berkisar antara 150C -300C (Hetharuca 1983diacu dalam Handriana 2006).

Penangkapan ikan di teluk Palabuhanratu umumnya dilakukan sepanjang tahun dan dikenal dengan dua musim penangkapan yaitu Musim Timur dan Musim Barat. Musim Timur adalah musim dimana jumlah ikan sangat banyak atau berlimpah, yaitu pada bulan Juni-Oktober. Periode ini ditandai dengan angin yang lemah, keadaan laut yang tenang, dan curah hujan sedikit. Sedangkan Musim Barat ditandai dengan sedikitnya hasil tangkapan yang didaratkan akibat keadaan perairan yang cukup membahayakan untuk operasi penangkapan ikan. Musim Barat berlangsung pada bulan November-April atau Mei (Pariwonoet al 1998 vide Handriana (2006), sedangkan menurut Tampubolon (1990) diacu dalam Handriana (2006), hasil tangkapan di Palabuhanratu dapat digolongkan menjadi tiga musim penangkapan ikan yaitu:

  1. Musim banyak ikan (Juni-September)
  2. Musim sedang ikan (Maret-Mei dan Oktober-November)
  3. Musim kurang ikan (Desember-Februari)

2.3.6 Hasil Tangkapan

Secara umum hasil tangkapan pancing rumpon adalah ikan pelagis yang bernilai ekonomis tinggi seperti ikan tuna yang sering bergerombol. Kebiasaan bergerombol (schooling)  ikan tuna adalah pada saat mencari makan. Schooling tersebut biasanya terdiri dari ikan yang ukurannya sama, hal ini mungkin disebabkan oleh kecepatan renang yang relatif sama (Nakamura 1969 diacu dalam Handriana 2006). Daerah penyebarannya secara horizontal meliputi perairan selatan dan barat Sumatera, perairan Selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Laut Banda dan Flores, Laut Sulawesi dan Perairan barat Papua. Sedangkan penyebaran secara vertikal sangat dipengaruhi oleh suhu dan swimming layer  (Nakamura 1969 diacu dalam Handriana 2006).

2.3.7 Madidihang (Yellowfin Tuna)

Madidihang (Thunnus albacares) termasuk dalam ordo Perciformes, family Scobridae dan genus Thunnus. Ciri-cirinya adalah badan memanjang bulat seperti cerutu. Tapis insang berjumlah 26-34, memiliki 2 lidah diatara kedua sirip perutnya. Jari-jari keras sirippunggung pertama berjumlah 13-14 dan 14 jari-jari lemah pada sirip punggung kedua, dan dilengkapi dengan jari-jari sirip tambahan berjumalah 8-10. Sirip punggung dan sirip dubur tambahan pada ikan dewasa sangat panjang, kemudian badan bersisik-sisik kecil. Ikan Mandidihang termasuk ikan buas, karnivor, predator dan panjangnya mencapai 50-150 cm. Ikan ini hidupnya secara bergerombol kecil. Ikan yellowfin tuna merupakan jenis epilagic oceanic fish, hidup di atas dan di bawah thermocline, ada pada temperatur 65 sampaii 880F (18-310C) (Jungjunan 2009).

Berikut ini adalah klasifikasi ikan tuna menurut Saanin (1984) :

Phylum: Chordata

Subphylum: Vertebrata

Class: Teleostei

Subclass: Actinopterygii

Order: Perciformes

Suborder: Scombridae

Family: Scombridae

Subfamily: Scombrinae

Genus: Thunnus

Spesies: Thunnus albacores

Gambar 9. Ikan Madidihang

2. 3.8      Cakalang

Menurut Gunarso (1996) diacu dalam Jungjunan (2009), cakalang atau skipjack tuna merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting. Ikan cakalang menyebar disekitar daerah tropis, yaitu pada suhu antara 260C – 320C. Ikan cakalang menyebar luas diseluruh perairan tropis dan subtropis pada lautan Atlantik, Hindia, dan Pasifik kecuali laut Mediterania. Penyebarannya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu penyebaran horizontal atau penyebaran menurut letak geografis dan penyebaran vertikal atau penyebaran menurut kedalaman perairan. Penyebaran tuna dan cakalang sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus garis konvergensi diantara arus dingin dan arus panas merupakan daerah yang kaya akan fitoplankton (Nakamura 1969 diacu dalam Jungjunan 2009).

Cakalang termasuk jenis ikan tuna dalam famili Scomridae. Ciri-ciri morfologi cakalang yaitu tubuh berbentuk fusiform, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill rakes) berjumlah 53-63 pada helai pertama. Ikan cakalang mempunyai dua sirip punggung yang terpisah, pada sirip punggung yang pertama terdapat 14-16 jari-jari keras, jari-jari lemah pada sirip punggung kedua diikuti oleh 7-9 finlet. Sirip dada pendek, terdapat dua flops diantara sirip perut. Sirip anal diikuti dengan 7-8 finlet (sirip antara sirip dorsal terakhir dan sirip caudal). Badannya tidak bersisik kecuali pada barut badan dan literal line terdapat titik-titik kecil. Bagian punggung berwarna biru kegelapan disisi bawah dan perut berwarna keperakan, dengan 4-6 buah garis-garis berwarna hitam yang memanjang pada bagian samping badan.  Sifat dari ikan cakalang yaitu ikan yang termasuk perenang cepat dan mempunyai sifat makan yang rakus, selain itu ikan cakalang sering bergerombol, ikan jenis ini biasa bergerombol diperairan pelagis hingga kedalaman 200 m. Ikan cakalang mencari makan berdasarkan penglihatan (Collete 1983 diacu dalam Jungjunan 2009).

Klasifikasi cakalang menurut Matsumoto, et al. (1984) diacu dalam Jungjunan (2009) adalah sebagai berikut:

Phylum:Vertebrata

Class: Teleostei

Order: Perciformes

Family: Scombridae

Genus: Katsuwonus

Spesies: Katsuwonus pelamis

Gambar 10. Ikan Cakalang                                   

2.3.9 Efektivitas

Efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil yang telah dicapai terhadap suatu tujuan. Efektifitas (Ef) sama dengan hasil yang telah dicapai atau telah didapatkan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dinyatakan dalam persen (Gibson 1990 diacu dalam Jeujanan 2008). Efektivitas juga bisa diartikan perbandingan-perbandingan antara hasil dengan tujuan dalam persen, dimana apabila efektifitasnya 100% maka dapat dikatakan cukup efektif, sedangkan apabila nilai efektifitasnya dibawah 100% dapat dikatakan kurang efektif, jadi efektifitas sama dengan hasil yang telah dicapai atau telah didapatkan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dinyatakan dalam persen.

Efektifitas alat tangkap adalah suatu kemampuan alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimum sesuai dengan tujuan penangkapan. Hasil tangkapan suatu alat tangkap dipengaruhi oleh efektifitas alat dan efisiensi cara operasi. Efektifitas alat tangkap secara umum tergantung pada faktor-faktor: parameter alat tangkap itu sendiri (rancang bangun dan konstruksi), pola tingkah laku ikan, ketersediaan atau kelimpahan ikan dan kondisi oseanografi (Fridman 1988 diacu dalam Jeujanan 2008).

III. METODOLOGI

3.3.1Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan Mei 2014.

Pelaksanaan penelitian berlokasi di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari

sebagai pangkalan perikanan troll line yang menangkap ikan cakalang di Perairan

Timur Laut Sulawesi Tenggara.

3.3.2Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei untuk mendapatkan gambaran yang dapat mewakili potensi dan tingkat pemanfaatan ikan cakalang di Perairan Timur Laut Sulawesi Tenggara. Pendekatan dilakukan dengan cara menganalisis data upaya penangkapan dan data hasil tangkapan (produksi) ikan cakalang oleh unit penangkapan troll line yang di daratkan di PPS Kendari. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh dari Kantor Pusat PPS Kendari, yang meliputi data fishing ground, operasi penangkapan ikan (jumlah trip operasi, hasil tangkapan per trip, jumlah kapal, dan tempat pemberangkatan) selama enam tahun terakhir, yaitu dari Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013. Data primer melalui kuisioner dan wawancara untuk memperoleh informasi tentang kondisi umum PPS Kendari dan usaha perikanan troll line yang berpangkalan di PPS Kendari.

  1. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan data tahunan hasil tangkapan ikan cakalang yang di daratkan di PPS Kendari (satuan: ton/tahun). Adapun jumlah upaya penangkapan troll line yang beroperasi sama dengan banyaknya trip penangkapan pada suatu periode tahun.

Keterangan : N = N / 1 + Ne

N   : jumlah populasi

n    : jumlah sampel

e    : kesalahan pengambilan yang ditetapkan (error)

Data yang dikumpulkan terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh PPS kendari hasil wawancara searah dengan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan dan wawancara dilakukan kepada  nelayan pemilik atau nelayan pancing rumpon di PPSkendari . Data primer yang dikumpulkan meliputi data hasil tangkapan pancing rumpon di PPS Palabuhan perikanan samudara ,  sedangkan data sekunder sebagai penunjang data primer diperoleh dari berbagai instansi yang berhubungan dengan penelitian. Data sekunder yang dikumpulkan adalah jumlah nelayan rumpon dalam mengoperasikan pancing rumpon yang didapat dari Dinas Perikanan dan Kelautan di pps kendariserta literatur lain yang dapat menunjang data primer..

  1. Analisis Aspek Sosial

Pendekatan yang dilakukan untuk menganalisis aspek sosial menggunakan kriteria sebagai berikut:

  1. nelayan per unit penangkapan : dilihat dari hasil tangkapan pancing rumpon untuk mengkaji hasil tangkapan per trip.
  2. Sistem pengelolaan rumpon yang berlaku dimasyarakat nelayan Palabuhan kendari.

3.3.5 Efektivitas rumpon

Efektivitas rumpon dihitung berdasarkan rasio antara ikan yang tertangkap oleh seluruh alat tangkap pada suatu jenis rumpon terhadap total hasil tangkapan dalam seluruh rumpon yang lain. Tingkat efektivitas rumpon ini dihitung dengan rumus (Jeujanan, 2008)

Ei = X 100 %

Keterangan:

Ei = efektivitas rumpon i

hij = Hasil tangkapan rumpon i oleh alat tangkap j

3.3.  Proporsi hasil tangkapan dari rumpon

Proporsi komposisi hasil tangkapan dari rumpon dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut ( jeunjanan, 2008)

X 100%

Keterangan:

P = proporsi satu jenis ikan yang tertangkap pada rumpon

ni = jumlah jenis ikan ke-i

N = jumlah seluruh hasil tangkapan 

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, A. 2005. Pemanfaatan Rumpon Laut Dalam: Upaya Meningkatkan Hasil Tangkapan Ikan Cakalang di PT. Usaha Mina (Persero) Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 1-27.

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor. Hal 5.

Ekasari D. 2008. Analisis Resiko Usaha Perikanan Tangkap Skala Kecil Di Pelabuhanratu. Tesis. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Jeujanan B. 2008. Efektivitas Rumpon Dalam Operasi Penangkapan Ikan Di Perairan Maluku Tenggara. Tesis. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Jungjunan O. 2009. Simulasi Perhitungan Gaya Apung Dan Gaya Tenggelam Rumpon Laut Dalam Di Perairan Selatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Gigentika, S. 2009. Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuhan Lombok Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Usulan Penelitian. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Handriana, J. 2006. Efektifitas Rumpon Laut dalam Terhadap Pengoperasian Pancing Tonda di Perairan Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Usulan Penelitian. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Imawati, N. 2003. Studi Tentang Kepadatan Ikan Pelagis di Sekitar Rumpon di Perairan Pasauran, Banten. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 7-8.

Inizianti, R. L. Analisis Spasial Daerah Penangkapan Ikan Kapal PSP 01 Di Perairan Selatan Jawa Barat. Proposal. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Octavianus. 2005. Penambahan Rumpon Untuk Meningkatkan Hasil Tangkapan Kelong Tancap Di Daerah Kawal, Kabupaten Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. P. D. Grafika Unit II, Bandung.

Saputra, A. 2002. Seleksi Umpan Untuk Meningkatkan hasil Tangkapan kembung Perempuan(Rastrelliger) Dengan Pancing Ulur (Hand line) di Perairan Tanjung Pasir, Banten. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Sianipar, M. H. 2003. Komposisi Hasil Tangkapan Payang Menurut Waktu dan Periode Bulan di Sekitar Rumpon di Perairan Pasauran, Provinsi Banten. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 7-10.

Singarimbun, M dan Sofyan E. 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta : PT Pustaka LP3ES.

Subani. 1986. Telaah penggunaan Rumpon dan payaos dalam perikanan Indonesia. Jurnal penelitian perikanan laut. No.35. balai penelitian perikanan laut. Jakarta: badan penelitian dan pengembangan pertanian departemen pertanian.

Wahyudin, E. N. 2007. Konstruksi Rumpon laut Dalam Dengan Pelampung Utama Jenis Ponton di Perairan Palabuhanratu, Jawa Barat. Usulan Penelitian. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Comments

Leave a Reply

Index