Aspek dan Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Ennies

Keterampilan berpikir dapat diklasifikasikan menjadi 2 keterampilan yaitu keterampilan berpikir dasar, dan keterampilan berpikir komplek. Kemampuan berpikir dasar sangat erat kaitanya dengan hasil belajar ranah kognitif dasar yaitu pada tahap mengingat (C1). Sedangkan keterampilan berpikir tinggi (komplek) meliputi kemampuan aplikasi, analisis, menilai, dan membuat. Proses berpikir komplek dapat dikategorikan dalam empat kelompok yang meliputi pemecahan masalah, pembuatan keputusan, berpikir kteratif, dan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menggunakan logika, yang dimaksud dengan logika adalah cara berpikir yang disertai dengan pengkajian kebenaran berdasarkan penalaran. Menurut Ennis ada 2 jenis logika yaitu (1) Logika induksi, merupakan cara berpikir yang digunakan untuk membuat kesimpulan berdasarkan prinsip-prinsip penemuan, serta dibuat dari cara berpikir induktif. Dan (2) Logika deduksi, merupakan cara berpikir yang digunakan untuk membuat pernyataan berdasarkan premis-premis yang sudah diketahui sebelumnya.

Menurut Ennis dalam Stiggin (1994) terdapat 12 indikator keterampilan berpikir kritis yang dikelompokan dalam 5 aspek keterampilan berpikir kritis seperti yang ditunjukkan pada Tabel berikut.


Aspek Keterampilan Berpikir Kritis menurut Ennis

Keterampilan Berpikir KritisSub Keterampilan Berpikir KritisAspek
1. Memberikan Penjelasan dasar1. Memfokuskan pertanyaana. Mengidentifikasi atau memformulasikan suatu pertanyaan 
b. Mengidentifikasi atau memformulasikan kriteria jawaban yang mungkin 
c. Menjaga pikiran terhadap situasi yang sedang dihadapi
2. Menganalisis argumena. Mengidentifikasi kesimpulan
b. Mengidentifikasi alasan yang dinyatakan
c. Mengidentifikasi alasan yang tidak dinyatakan
d. Mencari persamaan dan perbedaan
e. Mengidentifikasi dan menangani ketidakrelevanan
f. Mencari struktur dari sebuah pendapat/argumen
g. Meringkas
3. Bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantanga. Mengapa? 
b. Apa yang menjadi alasan utama? 
c. Apa yang kamu maksud dengan?
d. Apa yang menjadi contoh? 
e. Apa yang bukan contoh? 
f. Bagaiamana mengaplikasikan kasus tersebut?
g. Apa yang menjadikan perbedaannya? 
h. Apa faktanya? 
i. Apakah ini yang kamu katakan?
j. Apalagi yang akan kamu katakan tentang itu?
2. Membangun Keterampilandasar4. Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak?a. Keahlian 
b. Mengurangi konflik interest 
c. Kesepakatan antar sumber 
d. Reputasi 
e. Menggunakan prosedur yang ada 
f. Mengetahui resiko 
g. Keterampilan memberikan alasan 
h. Kebiasaan berhati-hati
5. Mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasia. Mengurangi praduga/menyangka 
b. mempersingkat waktu antara observasi dengan laporan 
c. Laporan dilakukan oleh pengamat sendiri 
d. Mencatat hal-hal yang sangat diperlukan 
e. penguatan 
f. Kemungkinan dalam penguatan 
g. Kondisi akses yang baik 
h. Kompeten dalam menggunakan teknologi 
i. Kepuasan pengamat atas kredibilitas kriteria
3. Menyimpulkan6. Mendeduksi dan mempertimbangkan deduksia.Kelas logika 
b.Mengkondisikan logika 
c.Menginterpretasikan pernyataan
7. Menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksia.Menggeneralisasi 
b.Berhipotesis
8. Membuat dan mengkaji nilai-nilai hasil pertimbangana.Latar belakang fakta 
b.Konsekuensi 
c.Mengaplikasikan konsep ( prinsip-prinsip, hukum dan asas) 
d.Mempertimbangkan alternatif 
e.Menyeimbangkan, menimbang dan memutuskan
4. Membuat penjelasan lebih lanjut9. Mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisiAda 3 dimensi:a.Bentuk : sinonim, klarifikasi, rentang, ekspresi yang sama, operasional, contoh dan noncontoh 
b. Strategi definisi 
c. Konten (isi)
10 . Mengidentifikasi asumsia.Alasan yang tidak dinyatakan
b.Asumsi yang diperlukan: rekonstruksi argumen   
5. Strategi dan taktik11. Memutuskan suatu tindakana.Mendefisikan masalah 
b.Memilih kriteria yang mungkin sebagai solusi permasalahan 
c.Merumuskan alternatif-alternatif untuk solusi 
d.Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan 
e.Merivew 
f.Memonitor implementasi
12. Berinteraksi dengan orang laina.Memberi label 
b.Strategi logis 
c.Srtrategi retorik 
d.Mempresentasikan suatu posisi, baik lisan atau tulisan

(Costa, 1985 : 54).

Bloom (Filsaime, 2008 :74) mendaftar enam tingkatan berpikir kritis dari tingkatan berpikir kritis yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Daftar tersebut mulai dengan pengetahuan dan bergerak ke atas menuju penguasaan, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pendagogi berpikir kritis selalu mengacu pada teori Bloom.

Menurut Bloom (Filsaime, 2008 :75) Seseorang harus menguasai satu tingkatan berpikir sebelum dia bisa menuju ke tingkatan atas berikutnya. Alasannya adalah kita tidak bisa meminta seseorang untuk mengevaluasi jika dia tidak mengetahui, tidak memahaminya, tidak bisa menginterpretasikannya, tidak bisa menerapkannya, dan tidak bisa menganalisanya.

“Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir konvergen, yaitu menuju ke satu titik” (Supraptojiel, 2008: 2). Dan berpikir kritis dapat dikatakan sama dengan ranah kognitif pada tingkat hapalan/pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4) sesuai dengan pernyataan berikut :

In covergent thingking the correct answere to a problem or question can be known in advance since it is fixed by the requirements of the subject matter or the problem or both. Knowledge (C1), comprehension (C2), application (C3), and Analysis (C4) can be regarded as convergent thinking (Bloom et. al, 1971 :244).

Comments

Leave a Reply