Daftar isi
Perilaku Seksual Anak Jalanan
Bab I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Anak adalah aset bangsa yang memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, karena anak merupakan generasi masa depan yang akan menentukan baik-buruknya suatu bangsa. Anak yang seharusnya mendapatkan hak untuk hidup secara layak sebagian justru terlantar di jalanan yang sering disebut dengan anak jalanan. Keberadaan anak jalanan saat ini menjadi fenomena global bagi dunia termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan anak jalanan banyak dijumpai di jalanan dan tempat-tempat umum, seperti pasar, mall, terminal bis, stasiun kereta api dan taman kota.
Anak jalanan merupakan anak-anak dibawah umur 18 tahun yang tinggal dan mencari nafkah di jalanan (Poerwadarminta, 2003: 341). Jalanan merupakan tempat yang berbahaya bagi kehidupan anak, karena di lingkungan ini tidak dapat membantu proses tumbuh-kembang anak dan merealisasikan potensinya secara penuh. Anak jalanan harus bertahan hidup dengan melakukan aktivitas di sektor informal, seperti menyemir sepatu, menjual koran, mencuci kendaraan, menjadi pemulung barangbarang bekas. Sebagian lagi mengemis, mengamen, ada yang mencuri, mencopet dan bahkan terlibat perdagangan seks. Anak jalanan seringkali menjadi korban eksploitasi dari orang dewasa, misalnya mengalami pelecehan seksual. Hal inilah yang menyebabkan anak jalanan sudah terbiasa melakukan perilaku seksual secara bebas. Risiko dari perilaku tersebut sangat luas, tidak hanya mengancam secara fisik tetapi juga secara sosial dan psikologis. Namun demikian keadaan tersebut memaksa anak jalanan mau tidak mau harus menjalani kehidupan keras di jalanan termasuk perilaku seksual.
Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk perilaku seksual mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku
berkencan, berciuman,bahkan bersenggama hal ini sejalan dengan Duvall,
E.M & Miller, B.C (dalam Mury, 2009: 45) bentuk perilaku seksual pranikah
mengalami peningkatan secara bertahap. Adapun bentuk-bentuk perilaku
seksual tersebut adalah 1) touching yaitu berpegangan tangan dan
berpelukan, 2) kissing yaitu berkisar dari ciuman singkat dan cepat sampai
kepada ciuman yang lama dan lebih intim, 3) petting yaitu menyentuh atau
meraba daerah erotis dari tubuh pasangan biasanya meningkat dari
meraba ringan sampai meraba alat kelamin, dan 4) sexual intercourse yaitu
hubungan kelamin atau senggama. Lebih lanjut menurut Eny Kusmiran
(2011: 34) akibat yang ditimbulkan bagi anak jalanan berusia remaja yang
berperilaku seksual pranikah yaitu: 1) terjadinya kehamilan yang tidak
diinginkan yang berdampak pada beban psikologis, sosial dan ekonomi, 2)
pengguguran kandungan atau aborsi, 3) terkena penyakit menular seksual
(PMS) khususnya remaja yang sering berganti-ganti pasangan apalagi
berhubungan seks dengan penjajah seks.
Perilaku seksual pada anak jalanan merupakan salah satu
permasalahan yang perlu diperhatikan oleh banyak pihak. Hal ini
dikarenakan anak jalanan pada umumnya tidak mempunyai pengetahuan
yang memadai mengenai resiko-resikonya dan pada umumnya mudah
terjebak dalam melakukan hubungan seks yang berisiko seperti hubungan
seks dengan pasangan yang berganti-ganti atau hubungan seks tanpa
perlindungan. Selain itu anak jalanan juga cenderung terlepas dari
pengawasan orang tuanya.
Salah satu rumah singgah di Yogyakarta yang berkomitmen sebagai
kawasan bagi anak-anak jalanan menuju kehidupan secara normal yaitu
Rumah Singgah dan Belajar (RSB) Diponegoro. RSB Diponegoro Yogyakarta
merupakan lembaga yang didirikan sebagai sayap lembaga Yayasan Pondok
Pesantren Diponegoro yang menangani anak-anak jalanan. Bentuk kegiatan
yang dilakukan rumah singgah berupa pengamatan masalah anak jalanan,
identifikasi dan pendampingan anak, pelatihan dan penyuluhan kepada
anak, konseling anak, dan pengembalian anak ke sekolah, pesantren,
rumah dan panti asuhan.
Berdasarkan studi pendahuluan di RSB Diponegoro yang dilakukan
penulis pada tanggal 20 Juli 2012 melalui wawancara dengan pengurus RSB,
ditemukan bahwa sampai saat ini RSB Diponegoro melakukan
pendampingan terhadap anak jalanan kurang lebih 50 orang anak dengan
10 orang anak menetap di rumah singgah. Beberapa lokasi yang menjadi
fokus pendampingan RSB Diponegoro, yaitu: a) perempatan UIN, b)
Demangan, c) pertigaan Kolombo, d) Santikara, e) perempatan Condong
Catur, f) perempatan Cemara Tujuh/Kentungan, g) perempatan Hotel
Novotel, dan h) Stasiun Lempuyangan. Lebih lanjut dijelaskan oleh
pengurus RSB Diponegoro bahwa banyak anak jalanan di Yogyakarta pada
usia remaja madya antara usia 15-18 tahun terjerumus dalam pergaulan
bebas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan resiko seks
bebas dan ada juga karena dipaksa oleh preman dan sesama anak jalanan.
Seks bebas merupakan hubungan intim yang dilakukan dengan lawan jenis
tanpa dilandasi ikatan pernikahan.
Selanjutnya peneliti juga melakukan wawancara dengan 5 anak
jalanan di RSB Diponegoro pada tanggal 31 Juli 2012. Tiga diantaranya
mengaku pernah melakukan seks bebas, sedangkan 2 diantaranya mengaku
belum pernah melakukan seks bebas. Bahkan kasus yang terakhir di RSB
Diponegoro ada satu anak perempuan jalanan berinisial MN (16 tahun)
yang ketahuan sedang tidur bersama dengan dua anak laki-laki yang juga
anak jalanan berinisial FR (17 tahun) dan BD (18 tahun). Menurut
keterangan pengurus RSB, alasan mereka melakukan perbuatan tersebut
karena terbiasa tidur bersama saat di jalanan dan tidak ada yang melarang.
Hasil observasi juga menunjukkan bahwa anak jalanan tampak terbiasa
melakukan bentuk-bentuk perilaku seksual seperti berpegangan tangan,
berpelukan dan berciuman. Dengan demikian perlu adanya penelitian lebih
lanjut mengenai perilaku seksual anak jalanan di RSB Diponegoro agar
diperoleh informasi yang lebih jelas tentang bentuk perilaku seksual anak
jalanan, faktor-faktor yang mendukung perilaku tersebut.
Sebelumya pernah dilakukan penelitian tentang anak jalanan yang
dilakukan oleh Mury (2009: 1) dengan judul “Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Seksual Beresiko Anak Jalanan Di Kabupaten
Jember Jawa Timur” menemukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku seksual beresiko anak jalanan yaitu umur, aktivitas di jalanan, lama
di jalan perhari, kebiasaan mengkonsumsi zat adiktif, tipe anak jalanan
serta sikap terhadap kesehatan reproduksi, PMS dan HIV/AIDS. Penelitian
ini juga menemukan bahwa sikap tentang kesehatan reproduksi, PMS dan
HIV/AIDS serta dukungan pemimpin kelompok berpengaruh sebesar
65,58% terhadap berperilaku seksual anak jalanan.
Metode Penelitian dan Pengembangan
Model Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dan pengembangan ini dilakukan di Rumah Singgah dan Belajar
(RSB) Diponegoro Yogyakarta yang beralamat di Jl. Utara No. 6 B
Pugeran,Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Waktu pelaksanaan pada 3
November- 3 Desember 2012.
Subjek Penelitian
Penentuan subyek informan dalam penelitian ini menggunakan teknik
purposive sampling yakni pemilihan informan penelitian berdasarkan
pertimbangan atau kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan
penelitian. Informan yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini sebanyak 7
orang yakni untuk anak jalanan sebanyak 5 orang dan untuk pengurus sebanyak
2 orang.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi.
Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang
lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Analisis data dilakukan dengan
tujuan agar informasi yang dihimpun akan menjadi jelas dan eksplisit. Sesuai
dengan tujuan penelitian maka teknik analisis data yang dipakai untuk
menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif model interaktif.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Deskripsi Hasil Penelitian dan Pengembangan
Dalam penelitian ini terdapat 7 orang informan penelitian. Subjek
penelitian ini meliputi 5 anak jalanan dan 2 orang pengurus RSB Diponegoro.
Tabel 1 ini merupakan profil informan anak jalanan berdasarkan jenis kelamin,
usia, status pendidikan dan lamanya menjadi anak jalanan.
Tabel 1.Profil Informan Anak Jalanan Berdasarkan Jenis Kelamin,
Usia,Tingkat Pendidikan,dan Lama Menjadi Anak Jalanan
No
Nama
(Inisial)
JenisKelamin Usia
(Th)
Tingkat Pendidikan
Lama Menjadi
Anak Jalanan
1 WY Laki-laki 17 Lulusan SD 6 th
2 BG Laki-laki 17 Tidak pernah sekolah 10 th
3 TL Perempuan 16 Tidak pernah sekolah 8 th
4 AA Laki-laki 18 Lulusan SD 9 th
5 SB Perempuan 16 SD (Tidak lulus) 6 th
(Sumber: Data Primer, 2012)
Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa informan anak jalanan
dalam penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 4
orang (57,14%) dan sisanya berjenis kelamin perempuan sebanyak 3
orang (42,86%). Selanjutnya jika dilihat berdasarkan usia untuk anak
jalanan masih berusia remaja yaitu antara 16-18 tahun. Untuk tingkat
pendidikan menunjukkan bahwa informan anak jalanan secara
keseluruhan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini dikarenakan
tingkat pendidikan anak jalanan hanya lulusan SD saja bahkan ada yang
tidak pernah menempuh pendidikan sama sekali. Sementara berdasarkan
lamanya informan menjadi anak jalanan antara 6-10 tahun.
Mengenai profil informan pengurus RSB Diponegoro disajikan
pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Profil Informan Pengurus RSB Berdasarkan Jenis Kelamin,
Usia,Tingkat Pendidikan
No
Nama
(Inisial)
JenisKelamin Usia
(Th)
Tingkat
Pendidikan
Keterangan
1 FS Laki-laki 38 S1 Pengurus RSB
Diponegoro, Guru SD
2 NV Perempuan 34 S1 Pengurus RSB
Diponegoro,
Wiraswasta
(Sumber: Data Primer, 2012)
Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa informan pengurus
RSB Diponegoro terdiri dari 2 orang yang berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan dan berusia 34 tahun dan 38 tahun. Informan pengurus RSB
Diponegoro seluruhnya memiliki tingkat pendidikan yang memadai yaitu
S1. Selain menjadi pengurus RSB Diponegoro, ternyata informan dalam
penelitian ini memiliki profesi lain sebagai guru SD dan wiraswasta.
Faktor penyebab menjadi anak jalanan pada subyek penelitian ini
yaitu faktor ekonomi, faktor modeling dan faktor disorganisasi keluarga
(perpecahan keluarga).Faktor ekonomi cenderung akibat adanya
kemiskinan, sehingga anak terpaksa mencari nafkah untuk membantu
memenuhi kebutuhan hidup keluarganya atau untuk kebutuhan
pribadinya sebagaimana yang dialami oleh WY (17 tahun) dan TL (16
tahun)sementara BG (17 tahun) disebabkan oleh faktor modeling (sejak
kecil sudah berada di jalanan). Selanjutnyafaktor disorganisasi keluarga
atau adanya perpecahan keluarga juga menjadi penyebab menjadi anak
jalanan. Anak sering dijadikan pelampiasan atas masalah yang tengah
dihadapi orang tua, sehingga anak stres dan tidak betah di rumah, maka
anak akan melarikan diri dan mencari kehidupan lain kemudian terjebak
dalam kehidupan jalanan sebagaimana yang dialami oleh AA (18 tahun)
dan SB (16 tahun). Anak jalanan perempuan cenderung mengalami
tindakan kekerasan seksual dengan paksaan bahkan ancaman untuk
melakukan hubungan seksual. Sementara anak jalanan laki-laki
cenderung lebih aman dari tindakan kekerasan seksual. Hal ini berarti
anak jalanan perempuan sering mengalami pelecehan dan kekerasan
seksual dalam berbagai bentuknya, seperti dicolek, diraba-raba, bahkan
diperkosa (melakukan hubungan seksual secara paksa).
Sebagian besar anak jalanan di RSB Diponegoro pernah
melakukan perilaku-perilaku seksual mulai dari berpegangan tangan,
berpelukan, berciuman, meraba, bersenggama, masturbasi/onani dan
oral seks. Terutama untuk anak jalanan yang berjenis kelamin perempuan
untuk perilaku seksual awal mulanya cenderung karena adanya unsur
paksaan/ancaman dari orang lain baik dari pacar maupun sesama anak
jalanan. Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual anak jalanan di RSB
Diponegoro meliputi: a) kurang memadainya pengetahuan mengenai
kesehatan reproduksi, b) pengaruh teman, c) pengaruh lingkungan, d)
pengaruh orang tua, dan e) media massa. Upaya yang dilakukan pengurus
RSB Diponegoro Yogyakarta untuk meminimalisir perilaku seksual
anakjalanan yaitu: a) memberikan pendampingan secara intensif, b)
mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat mengisi waktu luang pada
anak jalanan seperti pelatihan ketrampilan, pengajian dan pembelajaran,
c) memberikan layanan konseling kepada anak jalanan mengenai
permasalahan-permasalahan yang dialami, d) melakukan peneguran dan
sanksi bagi anak jalanan yang melakukan pelanggaran peraturan yang
berlaku di RSB Diponegoro.
2. Pembahasan Hasil Penelitian dan Pengembangan
Anak jalanan merupakan anak-anak yang berumur dibawah 18 tahun
yang tinggal yang menghabiskan waktunya di jalanan.Keberadaan anak
jalanan ada tiga motif yaitu motif untuk bekerja, motif hidup di jalanan, dan
motif karena keluarga yang hidup di jalanan. Hal ini sebagaimana yang
dikemukakan oleh BagongSuyanto (1999: 41) yang membagi anak jalanan
menjadi tiga yaitu children on the Street, children of the street, dan children
from families of the street.Keberadaan anak jalanan tidak terlepas dengan
perilaku seksual.
Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh
hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak
jalanan di RSB Diponegoro pernah melakukan perilaku-perilaku seksual mulai
dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, meraba, bersenggama,
masturbasi/onani dan oral seks. Terutama untuk anak jalanan yang berjenis
kelamin perempuan untuk perilaku seksual awal mulanya cenderung karena
adanya unsur paksaan/ancaman dari orang lain baik dari pacar maupun
sesama anak jalanan sebagaimana yang di alami oleh TL (15 tahun) dan SB (16 tahun). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mury (2009: 1) yang menyimpulkan bahwa secara umum perilaku seksual
anak jalanandi Kabupaten Jember Jawa Timur dalam kategori beresiko
sebanyak 51,6%.
Bentuk-bentuk perilaku seksual yang dilakukan anak jalanan di RSB
Diponegoro sesuai dengan pendapat Sarlito Sarwono (2011: 174) bahwa
bentuk perilaku seksual mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku
berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Pendapat tersebut juga didukung
oleh pendapat Duvall, E.M & Miller, B.C (dalam Mury, 2009: 45) yang
mengungkapkan bahwa bentuk perilaku seksual meliputi: a) touching yaitu
berpegangan tangan dan berpelukan, b) kissing yaitu berkisar dari ciuman
singkat dan cepat sampai kepada ciuman yang lama dan lebih intim, c)
petting yaitu menyentuh atau meraba daerah erotis dari tubuh pasangan
biasanya meningkat dari meraba ringan sampai meraba alat kelamin, d)
sexual intercourse yaitu hubungan kelamin atau senggama.
Seharusnya anak jalanan yang berusia remaja melakukan tugas
perkembangan remaja sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock (dalam
Siti Partini, dkk, 2006: 129) bahwa tugas perkembangan remaja yang harus
dilalui meliputi: mencapai hubunganbaru dan yang lebihmatangdengan
temansebayabaikpriamaupunwanita, mencapaiperansosialpria dan wanita,
menerimakeadaanfisiknya dan menggunakantubuhnya secara efektif, dan
mencapaiperilakusosial yang bertanggungjawab. Namun kenyataannya anak
jalanan cenderung berperilaku seksual tanpa dilandasi pernikahan.
Perilaku seksual pada anak jalanan merupakan hal yang perlu disoroti
oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan pada umumnya anak jalanan mudah
terjebak dalam melakukan hubungan seks yang berisiko seperti hubungan
seks dengan pasangan yang berganti-ganti atau hubungan seks tanpa
perlindungan. Selain itu anak jalanan juga cenderung terlepas dari
pengawasan orang tuanya. Jika perilaku seksual pra nikah terus menerus
dilakukan oleh anak jalanan, maka akan merugikan anak jalanan itu sendiri
khususnya bagi kaum perempuan seperti kehamilan yang tidak diinginkan,
abortus yang tidak aman, serta meningkatnya risiko untuk terkena Infeksi
Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS.
Pada dasarnya anak jalanan di RSB Diponegoro mengetahui dampak
adanya seks bebas, tetapi kenyataannya anak jalanan tetap melakukan
hubungan seks bebas karena adanya beberapa faktor. Faktor yang
mempengaruhi anak jalanan melakukan seks bebas diantaranya faktor
kebutuhan, faktor keterpaksaan dan faktor perlindungan. Anak jalanan
khususnya perempuan melakukan hubungan seks karena membutuhkan
uang untuk biaya hidup dan untuk mendapatkan perlindungan dari anak
jalanan/preman yang berkuasa di wilayah tersebut. Sementara faktor
keterpaksaan karena anak jalanan diperkosamelakukan seks bebas oleh anak
jalanan/preman.
Salah satu dampak perilaku seks bebas pada anak jalanan yang cukup
mengkhawatirkandalam penelitian ini yaitu kehamilan seperti yang pernah di
alami oleh TL (16 tahun). Ternyata anak jalanan mengetahui cara untuk
menggugurkan kandungan yang tentunya sangat berisiko pada anak jalanan
yakni dengan meminum satu bungkus obat berbentuk serbuk yang
sebenarnya obat untuk pelancar haid pada perempuan. Hal ini tentunya
perlu mendapat perhatian dari masyarakat khususnya pengurus RSB
Diponegoro untuk memberikan penyuluhan lebih intens tentang bahaya
aborsi yang dilakukan oleh anak jalanan.
Dalam perilaku seks bebas, anak jalanan perempuan cenderung lebih
beresiko pada kekerasan seksual. Hal ini sebagaimana hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa anak jalanan di RSB Diponegoro yang berjenis kelamin
perempuan cenderung mengalami tindakan kekerasan seksual seperti yang di
alami oleh TL (15 tahun) dan SB (16 tahun). Pelaku kekerasan seksual
biasanya berasal dari kalangan mereka sendiri. Selain itu, perilaku seksual
pada anak jalanan dilakukan berdasarkan suka sama suka, ada sebagian anak
jalanan perempuan yang ternyata melakukan seks bebas karena paksaan.
Berbagai jenis alat kontrasepsi yang banyak dianjurkan oleh pemerintah
ternyata tidak diminati, meskipun mereka pernah mendengar dan
memakainya.
Perilaku seksual pada anak jalanan merupakan permasalahan yang
perlu diperhatikan oleh banyak pihak. Hal ini dikarenakan anak jalanan pada
umumnya tidak mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai resikoresikonya
dan pada umumnya mudah terjebak dalam melakukan hubungan
seks yang beresiko seperti hubungan seks dengan pasangan yang bergantiganti
atau hubungan seks tanpa perlindungan. Pengetahuan mengenai
kesehatan reproduksi dan resiko perilaku seksual sangat penting bagi anak.
Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang
kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif
cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya.
Selain faktor pengetahuan, faktor keluarga juga penting. Orang tua
merupakan figur teladan (modeling) bagi anak-anaknya. Oleh karena itu,
munculnya perilaku menyimpang pada anak dimungkinkan karena orang tua
yang justru melakukan perilaku-perilaku yang menyimpang, sehingga ditiru
oleh anak. Apalagi untuk anak jalanan cenderung terlepas dari pengawasan
orang tuanya. Pada masa remaja, lingkungan pergaulan juga sangat
berpengaruh pada perilaku seksual, terutama pada masa pubertas/remaja
dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau
anggota keluarga lain.
Oleh karena itu, pihak pengurus RSB Diponegoro perlu melakukan
upaya-upaya untuk meminimalisir adanya perilaku seksual pra nikah pada
anak jalanan di RSB Diponegoro pada khususnya dan anak jalanan pada
umumnya. Upaya yang telah dilakukan pihak pengurus RSB Diponegoro
seperti adanya pendampingan secara intens, mengadakan kegiatan-kegiatan
yang dapat mengisi waktu luang pada anak jalanan seperti pelatihan
ketrampilan, pengajian dan pembelajaran, memberikan layanan konseling
kepada anak jalanan mengenai permasalahan-permasalahan yang dialami,
melakukan peneguran dan sanksi bagi anak jalanan yang melakukan
pelanggaran peraturan yang berlaku di RSB Diponegoro perlu dilakukan
secara kontinue. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan
dapat mengatasi perilaku seksual pada anak jalanan khususnya di RSB
Diponegoro.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
1. Sebagian besar anak jalanan di RSB Diponegoro pernah melakukan
perilaku-perilaku seksual mulai dari berpegangan tangan, berpelukan,
berciuman, meraba, bersenggama, masturbasi/onani dan oral seks.
Terutama untuk anak jalanan yang berjenis kelamin perempuan untuk
perilaku seksual awal mulanya cenderung karena adanya unsur
paksaan/ancaman dari orang lain baik dari pacar maupun sesama anak
jalanan.
2. Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual anak jalanan di RSB
Diponegoro meliputi:
a) kurang memadainya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi.
b) pengaruh teman.
c) pengaruh lingkungan.
d) pengaruh orang tua.
e) media massa.
3. Upaya yang dilakukan pengurus RSB Diponegoro Yogyakarta untuk
meminimalisir perilaku seksual anakjalanan yaitu:
a) memberikan pendampingan secara intensif
b) mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat mengisi waktu luang pada anak jalanan seperti pelatihan ketrampilan, pengajian dan pembelajaran.
c) memberikan layanan konseling kepada anak jalanan mengenai permasalahan-permasalahanyang dialami
d) melakukan peneguran dan sanksi bagi anak jalanan yang melakukan pelanggaran peraturan yang berlaku di RSB Diponegoro.
Saran
1. Hendaknya pihak RSB Diponegoro melakukan upaya untuk meminimalisir
perilaku seksual anak jalanan secara berkelanjutandengan cara
memberikan kegiatan pendidikan maupun kegiatan keagamaan. Kegiatan
pendidikan meliputi pelatihan keterampilan perbengkelan, kerajinan dan
pembelajaran seperti di sekolah, sedangkan kegiatan keagamaan meliputi
pengajian, mentoring, dan sholawatan.
2. Hendaknya pihak RSB Diponegoro mengadakan konseling tentang perilaku
seksual dan kesehatan reproduksi anak jalanan secara intens dengan
pendekatan interpersonal seperti acara bedah film, sehingga anak jalanan
menjadi lebih tertarik dan memahami tentang perilaku seksual dan
15
kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan masih kurang memadainya
pengetahuan anak jalanan tentang perilaku seksual dan kesehatan
reproduksi.
3. Hendaknya anak jalanan di bina secara langsung oleh lembaga-lembaga
sosial agar diberikan keterampilan dalam bekerja, sehingga anak jalanan
dapat berkembang menjadi pribadi yang produktif.
Daftar Pustaka
Bagong Suyanto. (1999). Anak Jalanan Di Jawa Timur (Masalah dan Upaya
Penangananya. Surabaya: Airlangga Univercity Press.
Eny Kusmiran. (2011). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta:
Salemba Medika.
http://id.wikipedia.org . (2012). Anak Jalanan. diakses pada tanggal 25 Mei 2012.
Mu’tadin. (2002). Remaja dan Rokok http://www.e-psikologi.com, diperoleh
tanggal 5 Juni 2009.
Mury. (2009). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Beresiko Anak
Jalanan Di Kabupaten Jember Jawa Timur. Skripsi: Prodi Magister Promosi
Kesehatan Pasca Sarjana. Universitas Diponegoro.
Poerwadarminta. (2003). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Siti Partini Suardiman, dkk. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Diktat Kuliah.
Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi. (2007). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Syamsu Yusuf. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya Offset.
Husaini Usman. (2004). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahyudi, K., (2000), Kesehatan Reproduksi Remaja. Lab Ilmu Kedokteran Jiwa FK
UGM Jogjakarta.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.