Daftar isi
Observasi Kelimpahan Ikan Pulau Simak
Bab. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pulau Simuk di Kabupaten Nias Selatan adalah satu dari Sembilan dua pulau-pulau kecil terluar (PPKT). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografgis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia terdapat tiga pulau kecil terluar di Provinsi Sumatera Utara yaitu Pulau Berhala di Kabupaten Serdang Bedagai, Pulau Simuk di Kabupaten Nias Selatan dan Pulau Wunga di Kabupaten Nias Utara. Pulau Simuk masuk pulau kecil terluar dengan TD 164 dan R 164 (Sekretariat Negara, 2002).
Pulau-pulau kecil terluar menurut Pasal 24 Undang – Undang Nomor 27 tahun 2007 ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi (Sekretariat Negara, 2007). Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun 2010 menetapkan pulau-pulau kecil terluar sebagai Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT).
Pemanfaatan PPKT hanya dapat dilakukan untuk pertahanan dan keamanan, kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan. Pelestarian lingkungan dilakukan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung PPKT (Sekretariat Negara, 2010).
Bab II. Pembahasan
Pulau Simuk
Pulau Simuk memiliki konstur datar berpantai landai dengan warna pasir putih. Kata “Simuk” berarti semut, karena dulunya pulau ini banyak semutnya. “Simuk” juga mempunyai arti kecil dan pada kenyataannya Pulau Simuk termasuk pulau kecil. Pulau Simuk secara administrasi terletak di Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nia Selatan , Provinsi Sumatera Utara yang terletak di Samudera Hindia. Terdapat 6 (enam) desa yang berada di Pulau Simuk yaitu Desa Gobo Induk, Gobo Baru, Silina Induk, Silina Baru, Gondia dan Mauf . Secara geografis Pulau Simuk terletak pada titik koordinat 00˚ 05’ 33” dan 97˚51’14” BT (BPS, 2010).
Kondisi perairan di Pulau Simuk sangat jernih dengan ombak dan gelombangnya yang sangat besar. Hal ini karena letak Pulau Simuk yang jauh dari pulau pulau lainnya dan berada di perairan laut lepas Samudera Hindia. Kedalaman perairan di sekitar Pulau Simuk berkisar antara 9 – 36 meter. Arus dari daerah perairan pulau ini berasal dari Samudera Hindia yang bergerak menuju arah Timur dan sebagian dibelokan ke Selatan dengan kecepatan sekitar 0,61 m/detik.
Pulau Simuk termasuk pulau dengan iklim tropis. Musim hujan terjadi antara Bulan Juli – Desember setiap tahunnya dengan curah hujan rata-rata mencapai 2.235,2 mm/tahun. Sedangkan musim kemarau terjadi antara bulan Januari – Juli setiap tahunnya. Suhu udara di sekitar pulau berkisar antara 20,5˚ – 29,8˚ C. Cuaca di Pulau Simuk juga sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi laut sekitar perairan pulau. Sehingga sering terjadi badai baik di perairan maupun di pantai dan daratannya (BPS, 2010).
Pulau Simuk memiliki topografi datar bergelombang dengan ketinggian hingga sekitar 8 meter di atas permukaan laut (elevasi ketinggian 0 – 8 meter di atas permukaan laut). Sebagian besar wilayah pulau ini merupakan dataran rendah, bahkan hampir dikatakan seluruhnya datar. Dibagian tengah arah tenggara pulau terdapat bukit kecil, setinggi kurang lebih 8 meter seluas sekitar 5.000 meter persegi yang dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi pengungsian apabila terjadi tsunami. Pantai pulau landai yang tersusun dari pasir putih serta pecahan karang. Apabila air surut banyak ditemukan karang hidup ditepian pantainya.
Ikan karang
Ikan karang dapat dikelompokkan atas: ikan target, ikan indikator dan ikan mayor (LIPI 2006). Ikan target adalah ikan karang yang bernilai ekonomis, ditangkap untuk konsumsi. Misalnya famili Serranidae (ikan Kerapu), Lutjanidae (ikan Kakap), Lethrinidae (ikan Lincam), Nemipteridae (ikan Kurisi), Caesionidae (ikan Ekor Kuning), Siganidae (ikan Baronang), Haemulidae (ikan Bibir Tebal), Scaridae (ikan Kakak Tua) dan Acanthuridae (ikan Pakol). Ikan indikator, adalah jenis ikan karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indikator kesuburan ekosistem terumbu karang, misalnya famili Chaetodontidae (ikan Kepe –kepe).
Ikan major (ikan hias) adalah jenis ikan berukuran kecil (5 – 25 cm), pewarnaan beragam, berkelompok dan sepanjang hidupnya berada di terumbu karang. Misalnya famili Pomacentridae (ikan Betok Laut), Apogonidae (ikan Serinding), Labridae (ikan Sapu – sapu), dan Blenniidae (ikan Peniru). Ikan hias semakin banyak diminati masyarakat perkotaan dan luar negeri. Akibatnya pengambilan ikan hias semakin meningkat. Pengambilan ikan hias sering dilakukan dengan peracunan menggunakan sianida. Peracunan ikan hias menyebabkan terumbu karang mati (Soemarwoto, 2001). Kelayakan ekowisata bahari ikan karang dengan keriteria sangat sesuai > 70 jenis , sesuai 50-70 jenis , kurang sesuai 20-50 jenis dan tidak sesuai < 20 jenis (Maamena, 2003).
Pengertian ikan menurut Undang – Undang Nomor 45 tahun 2009 (Sekretariat Negara 2009) dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Pengelolaan Sumberdaya Ikan (Sekretariat Negara 2007a), adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Dengan demikian, terumbu karang, lamun, berbagai jenis kima, penyu dan lainnya berdasarkan perundangan-undangan yang berlaku masuk kategori ikan. Sebagian biota laut seperti berbagai jenis kima dan penyu telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa (Sekretariat Negara – RI, 1999).
Spesies ikan yang berada dalam ekosistem terumbu karang Indonesia lebih kurang 8.000 jenis atau 40 persen jenis ikan karang dunia. Terumbu karang berperan sebagai tempat tinggal, tempat mencari makan, tempat asuhan, pembesaran, tempat pemijahan dan tempat berlindung ikan karang. Ekosistem terumbu karang memiliki jaring – jaring makanan yang rumit dan menghasilkan keseimbangan sehingga ikan karang tidak keluar dari ekosistem terumbu karang (Romimohtarto, 2007). Ikan – ikan karang akan menambah indahnya pemandangan pada ekosistem terumbu karang.
Bab III. Metoda penelitian
Lokasi penelitian di perairan Pulau Simuk, Samudera India. Titik penelitian berada pada stasiun Simuk-1, Simuk-2, Simuk-3 dan Simuk-4.. Masing-masing titik penelitian disajikan pada gambar-1.
Gambar-1. Titik pengamtan di Pulau Simuk
Metode penelitian ikan dapat digunakan metoda RRI dan metoda UVC. Metoda RRI (Rapid Reef Resources Inventory) digunakan untuk mengetahui secara umum jenis-jenis ikan yang dijumpai pada setiap titik pengamatan. Sedangkan metoda UVC Underwater Fish Visual Census) untuk menghitung secara detail ikan karang. Pada metoda UVC, setiap titik transek permanen ikan-ikan karang dicacah pada jarak 2,5 m di sebelah kiri dan sebelah kanan garis transek sepanjang 70 m (LIPI, 2006).
Penelitian juga menghitung kelimpahan jenis ikan karang dalam satuan unit individu/ha. Dari data kelimpahan tiap jenis ikan karang yang dijumpai di masing-masing stasiun transek permanen dilakukan analisa pengelompokan (cluster analysis) yang dikelompokkan ke dalam 3 kelompok utama yaitu ikan target, ikan indikator dan ikan mayor. Penelitian biota megabenthos “Reef Check Benthos” (RCB). Sampling dilakukan sesudah kegiatan LIT, pada transek yang sama panjang 70 m dan dengan lebar 1 meter ke kanan dan 1 meter kekiri dari garis transek, sehingga luas bidang yang teramati per transeknya yaitu (2 x 70) = 140 m2. Biota yang diketemukan dicatat jumlah individunya sepanjang transek (LIPI, 2006).
Bab IV. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Observasi
1. Ikan karang
Pengamatan ikan karang dengan metode Underwater Fish Visual Census yang dilakukan 4 (empat) stasiun, dijumpai sebanyak 77 jenis ikan karang yang termasuk dalam 17 suku, dengan nilai kelimpahan ikan karang sebesar 3729 individu/ha. Jenis Casio cuning merupakan jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan tertinggi pada setiap transek permanen di 4 lokasi pengamatan dengan jumlah individu sebesar 219 individu/ha, kemudian diikuti oleh Chaetodon vagabundus 171 individu/ha dan Chaetodon rafflesii 133 individu/ha.
Kelimpahan untuk setiap kelompok ikan karang menggunakan metode UVC untuk ikan mayor 1.195 individu/ha, ikan target 1.881 individu/ha dan ikan indikator 652 individu/ha. Jenis ikan karang dan kelimpahan tertinggi ikan karang ditampilkan dalam tabel- 1.
Tabel 1. Jenis ikan karang yang mempunyai kelimpahan tertinggi
| No | Spesies | Family | Kelimpahan (Individu/Ha) |
|---|---|---|---|
| 1 | Caesio cuning | Caesionidae | 219 |
| 2 | Chaetodon vagabundus | Caesionidae | 171 |
| 3 | Chaetodon rafflesii | Chaetodontidae | 133 |
| 4 | Balistapus undulatus | Balistidae | 114 |
| 5 | Ctenochaetus binotatus | Acanthuridae | 105 |
| 6 | Pterocaesio tile | Caesionidae | 95 |
| 7 | Chaetodon bennetti | Chaetodontidae | 86 |
| 8 | Scarus bleekeri | Scaridae | 81 |
| 9 | Balistoides viridescens | Balistidae | 81 |
| 10 | Lutjanus decussatus | Lutjanidae | 71 |
| 11 | Acanthurus blochii | Acanthuridae | 71 |
| 12 | Naso literatus | Acanthuridae | 71 |
| 13 | Sargocentron caudimaculatus | Holocentridae | 71 |
| 14 | Lutjanus fulviflamma | Lutjanidae | 71 |
| 15 | Bodianus mesothprax | Labridae | 71 |
Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi suku didominasi suku Chaetodontidae sebesar 662 individu/ha diikuti suku Caesionidae sebesar 429 individu/ha dan suku Acanthuridae sebesar 424 individu/ha. Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi suku disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi suku
| No | Family | Kelimpahan (Individu/Ha) |
|---|---|---|
| 1 | Chaetodontidae | 662 |
| 2 | Caesionidae | 429 |
| 3 | 424 | |
| 4 | Pomacentridae | 371 |
| 5 | Labridae | 290 |
| 6 | Balistidae | 243 |
| 7 | Lutjanidae | 229 |
| 8 | Scaridae | 229 |
| 9 | Siganidae | 186 |
| 10 | Haemulidae | 114 |
| 11 | Carangidae | 110 |
| 12 | Apoginidae | 105 |
| 13 | Holocentridae | 95 |
| 14 | Scolopsidae | 90 |
| 15 | Serranidae | 90 |
| 16 | Pomacanthidae | 76 |
| 17 | Lethrinidae | 29 |
2. Megabenthos
Hasil penelitian dengan metoda “Reef Check Benthos” yang dilakukan di lokasi transek permanen ditemukan sebanyak 9 jenis biota megabenthos yaitu karang (1 jenis), ekhinodermata (5 jenis) dan krustasea (3 jenis), dengan total individu sebanyak 600 individu. Untuk melihat jumlah kelimpahan megabenthos individu/ha setiap kategori megabenthos dapat dilihat pada Tabel 3. Drupella yang lebih banyak dijumpai dibanding megabentos lainnya yaitu masing-masing jumlahnya berturut-turut adalah 380 individu/ha dilanjutkan dengan Sea Urchin yang banyak dijumpai kelimpahannya sebesar 250 individu/ha. Demikian juga dengan Giant Clam (kima) yang memiliki nilai ekonomis penting masih dijumpai, dimana untuk yang berukuran besar (panjang > 20 cm) kelimpahannya sebesar 11 individu/ha, dan yang berukuran kecil (panjang < 20 cm) sebesar 35 individu/ha. Tripang (holothurian) dimana yang berukuran besar (panjang > 20 cm) kelimpahan sebesar 35 individu/ha, sedangkan yang berukuran kecil kelimpahannya sebesar hanya 35 individu/ha.
Tabel 3. Hasil kelimpahan megabenthos pada lokasi transek permanen
| Megabenthos | Kelimpahan (ind./transek) | Kelimpahan (ind./ha) |
|---|---|---|
| Acanthaster planci | 1 | 36 |
| CMR | 2 | 130 |
| Sea urchin | 3 | 250 |
| Drupella | 5 | 380 |
| Large Giant Clam | 0.17 | 11 |
| Small Giant Clam | 0.5 | 35 |
| Large Holothurian | 0.5 | 35 |
| Small Holothurian | 0.5 | 35 |
| Lobster | 0 | 0 |
| Pencil sea urchin | 0 | 0 |
| Banded Coral Shrimp | 0.33 | 0.05 |
| Trochus niloticus | 0 | 000 |
Bab III. Penutup
A. Kesimpulan
1. Pengamatan ikan karang dijumpai sebanyak 77 jenis ikan karang yang termasuk dalam 17 suku, dengan nilai kelimpahan ikan karang sebesar 3729 individu/ha. Total individu ikan karang yang ditemukan adalah 3.729 individu/Ha. Jenis Casio cuning merupakan jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan tertinggi dengan kelimpahan sebesar 219 individu/ha, diikuti oleh Chaetodon vagabundus 117 individu/ha, Chaetodon rafflesii 133 individu/ha, Balistapus undulatus 114 individu/ha, Ctenochaetus binotatus 105 individu/ha danikan lainnya di bawah 100 individu/ha. Perbandingan antara ikan major, ikan target dan ikan indikator yang dicatat dalam pengamatan ini adalah sebesar 1 : 2 : 3. Artinya dari 77 individu ikan karang yang ditemukan pada perairan ini, peluang untuk mendapatkan kelompok ikan major adalah sebesar 2 individu, ikan target 3 individu dan ikan indikator 1 individu
2. Hasil penelitian benthos ditemukan sebanyak 9 jenis biota megabenthos yaitu karang (1 jenis), ekhinodermata (5 jenis) dan krustasea (3 jenis), dengan total individu sebanyak 600 individu. Megabenthos diantaranya Giant Clam (kima) yang memiliki nilai ekonomis penting berukuran besar (panjang > 20 cm) kelimpahannya sebesar 11 individu/ha, dan yang berukuran kecil (panjang < 20 cm) sebesar 35 individu/ha demikian juga tripang (holothurian) berukuran besar (panjang > 20 cm) kelimpahan sebesar 35 individu/ha, sedangkan yang berukuran kecil kelimpahannya sebesar hanya 35 individu/ha.
Kepustakaan
[BPS]. 2010. Nias Selatan Dalam Angka 2010. BPS Nias Selatan, Teluk Dalam.
[LIPI – Coremap]. 2006. Tapanuli Tengah Baseline Ekologi. Critc – Coremap LIPI, Jakart Maamena, M. 2003. Model Pemanfaatan Pulau – Pulau Kecil: Studi Kasus di Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu . (Disertasi IPB tidak dipublikasikan), Bogor.
Maamena, M. 2003. Model Pemanfaatan Pulau – Pulau Kecil: Studi Kasus di Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu . (Disertasi IPB tidak dipublikasikan), Bogor.
Romimohtarto, K . Sri, J. 2007. Biologi laut, ilmu pengetahuan tentang biota laut. Djambatan, Jakarta.
Soemarwoto, O. 2001. Atur diri sendiri: pradigma baru pengelolaan lingkungan. Gajah Mada University Press, Yokyakarta.
[Sekretariat Negara – RI], 2007. Undang – Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau kecil
[Sekretariat Negara – RI], 2002. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografgis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia.
[Sekretariat Negara – RI], 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun 2010 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar.
[Sekretariat Negara – RI], 2009. Undang – Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Sekretariat Negara – RI, Jakarta.
[Sekretariat Negara – RI], 2007a. Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan. Sekretariat Negara – RI, Jakarta.
[Sekretariat Negara – RI], 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Sekretariat Negara – RI, Jakarta
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.