Makalah Panen Kelapa Sawit Pada Tanaman Muda

Panen Kelapa Sawit Pada Tanaman Muda

Bab I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Meskipun demikian, ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Bahkan mampu memberikan hasil produksi per hektar yang lebih tinggi. Bagi Indonesia, tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber perolehan devisa negara. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit.

Di Indonesia, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang banyak dikebunkan oleh perusahaan-perusahaan besar, baik pemerintah maupun swasta. Bahkan masyarakat pun banyak bertanam kelapa sawit secara kecil-kecilan. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit sangat cocok tumbuh di Indonesia. Jika Indonesia ditargetkan untuk menjadi negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tentu orang-orang yang mengelolanya, mulai dari pembibitan, penanaman sampai ke teknik pengelolahan hasil panen harus berlaku profesional.

Produk akhir yang diharapkan dari budidaya kelapa sawit yaitu ton TBS ( Tandan Buah Segar) yang tinggi. Untuk memperoleh hasil tersebut, maka harus dilakukan persiapan dan teknik panen yang benar sesuai umur dan keadaan tanaman di lapangan.Kegiatan panen dilaksanakan pada tanaman muda, dewasa dan juga tanaman tua hingga tanaman berumur ±25 tahun.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat diidentifikasikan masalah yakni:

  1. Apa saja pekerjaan yang dilakukan pada persiapan panen kelapa sawit?
  2. Bagaimana teknik pemanenan yang dilakukan pada tanaman muda?

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan identifikasi masalah, maka tujuan penulisan adalah untuk mengetahui apa saja yang dilakukan pada persiapan panen, dan bagaimana cara/teknik panen pada tanaman muda kelapa sawit.

Bab II. Pendahuluan

A. Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman multiguna. Tanaman kelapa sawit kini tersebar di berbagai daerah. Secara umum, dapat diindikasikan bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit masih mempunyai prospek harga, ekspor, dan pengembangan produk (Suwarto dan Octavianty, 2010). Kelapa sawit (Elaeis guinensis jacq.) adalah salah satu dari beberapa palma yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Minyak sawit selain digunakan sebagai minyak makan, dapat juga digunakan untuk industri sabun, lilin, dan dalam pembuatan lembaran-lembaran timah serta industri kosmetik (Dinas Perkebunan Dati I Irian Jaya, 1992).

Kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang besar devisa Indonesia. Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 7,3 juta hektar dengan rata-rata hasil produksi 3,27 juta ton/hektar (Fauzi dkk, 2012), sedangkan pada tahun 2012 luas perkebunan kelapa sawit mencapai 9 juta hektar (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2013). Keuntungan lain yang didapat dari perkebunan kelapa sawit adalah mampu menciptakan lapangan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat. Dengan meninjau potensi tersebut perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan hasil minyak kelapa sawit yang berasal dari buah kelapa sawit. Salah satu usaha yang dilakukan adalah meningkatkan efisiensi dan mengurangi masalah panen perkebunan kelapa sawit.

B. Panen Kelapa sawit

Panen buah kelapa sawit di Indonesia masih dilakukan secara manual dan mengandalkan tenaga manusia. Cara panen buah kelapa sawit dilakukan dengan memotong tandan buah segar (TBS) dan memotong pelepah daun yang menghalangi proses pemotongan TBS. Saat ini Indonesia menggunakan 2 jenis alat panen tradisional, yaitu: dodos dan egrek. Dodos menggunakan pisau dengan bentuk chisel yang disambung dengan pipa panjang, sedangkan egrek menggunakan pisau dengan bentuk sickle atau arit yang disambung dengan pipa panjang. Dodos pada umumnya digunakan untuk pohon kelapa sawit dengan 2 ketinggian 2 – 5 m, sedangkan egrek, digunakan untuk pohon kelapa sawit dengan ketinggian 5 m atau lebih. Alat tradisional ini membutuhkan tenaga yang besar dari pengguna karena untuk memotong TBS dilakukan gerakan menusuk untuk dodos dan gerakan menarik untuk egrek (Fauzi dkk, 2012).

Bab III. Pembahasan

A. Persiapan Panen

Teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak maksimum dengan kualitas yang paling baik. Untuk mencapai jumlah minyak maksimum dengan kualitas yang paling baik perlu kematangan buah yang optimum, selang panen yang tepat, metode pengumpulan buah, dan pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan buah sawit.

Aspek yang paling penting diperhatikan dalam panen dan pengangkutan buah adalah hal-hal yang mempengaruhi kualitas akhir dari minyak sawit, khususnya menyangkut kadar asam lemak bebas. Jadi, untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas tinggi sebaiknya dibuat persiapan panen yang baik.

Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penyerbukan. Agar panen berjalan lancar, tempat pengumpulan hasil (TPH) harus dipersiapkan dan jalan pengangkutan hasil (pasar pikul) diperbaiki untuk memudahkan pengangkutan hasil panen dari kebun ke pabrik. Para pemanen juga harus mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Pemanenan kelapa sawit perlu memperhatikan beberapa ketentuan umum agar tandan buah segar (TBS) yang dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu baik.

Sebelum tanaman memasuki masa panen, perlu dilakukan persiapan panen yang berguna untuk mendapatkan hasil dari produksi tanaman yang maksimal.

Persiapan panen biasanya dilakukan pada saat tanaman memasuki masa TBM akhir. Kegiatan yang perlu dilakukan dalam persiapan panen yaitu:

a) Kastrasi

Ablasi atau kastrasi adalah pekerjaan membuang bunga jantan maupun bunga betina yang masih muda karena buah yang dihasilkan belum ekonomis dan untuk memaksimalkan pertumbuhan vegetatif. Kastrasi dilakukan sebanyak 5 rotasi yaitu pada umur 15-20 / bulan. Kastrasi juga bertujuan untuk menjaga kebersihan tanaman sehingga mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit seperti Tirathaba, Tikus dan Marasmius.

Pelaksanaan kastrasi:

  • Semua bunga jantan dan betina sampai ketinggian 30 cm di atas tanah dibuang
  • Pelepah jangan terpotong
  • Bunga yang kecil dipatahkan dengan pengait
  • Bunga yang besar dibuang dengan dodos
  • Bunga dikumpulkan dan kalau sudah kering dibakar

b) Pruning / Tunas Pasir

Pruning atau pemangkasan adalah pembuangan pelepah- pelepah yang sudah tidak produktif/pelepah kering pada tanaman kelapa sawit. Pruning / pemangkasan merupakan termasuk dalam kegiatan persiapan panen.

Pruning atau pemangkasan dilakukan dengan tujuan untuk :

  1. Memangkas pelepah yang sudah tidak produktif.
  2. Mempermudah di dalam proses pemanenan serta pengutipan brondolan.
  3. Mempertahankan jumlah pelepah setiap pokoknya minimal 56-64 pelepah.
  4. Sanitasi ( Menjaga kebersihan ) tanaman agar tidak diserang oleh

Hama & Penyakit.

Pruning perlu dilakukan untuk menjaga jumlah pelepah yang optimal yang berguna untuk tempat munculnya bunga & pemasakan buah. Pruning dilakukan setelah dilakukan kastrasi & tanaman sudah mulai memasuki tahap awal panen ( 6 bulan sebelum panen ).

Teknis pruning dilakukan dengan cara :

  • Memangkas pelepah searah dengan arah spiral / letak alur pelepah.
  • Supaya hasil dari pangkasan terlihat rapi.
  • Memangkas pelepah yang tidak produktif, dengan ciri-ciri :
    1. Pelepah yang sudah tua dan kering
    2. Pelepah sudah tidak dijadikan pelepah songgo (minimal songgo 2).
    3. Memangkas pelepah secara mepet & tepat pada bagian bawah pangkal pelepah. Pelepah harus dipangkas mepet dengan tujuan untuk mencegah tersangkutnya brondolan pada pelepah.
    4. Menyusun pelepah hasil sisa pangkasan di Gawangan Mati atau disusun di antara pokok tanaman & dipotong menjadi 3 bagian.

c. Piringan

Piringan merupakan daerah yang berada di sekitar pokok kelapa sawit yang berbentuk lingkaran. Pada setiap pokok kelapa sawit harus dibuat piringan dengan Tujuan :
· Memudahkan dalam proses pemanenan.
· Memudahkan dalam pengutipan brondolan & perawatan tanaman

Dalam pembuatan piringan biasanya dilakukan secara manual terlebih dahulu setelah itu dilakukan secara chemis. Dengan manual biasanya untuk membentuk piringan pada pokok sesuai dengan diameter yang di tentukan,dengan membabat gulma yang tumbuh di sekitar piringan dan menggaru nya menggunakan cangkul.

Lebar piringan menurut umur sawit :

  • Tanaman umur 2-6 bulan lebar piringan jari jari 60 cm
  • Tanaman umur 6-12 bulan lebar piringan jari jari 75 cm
  • Tanaman umur 12-24 bulan lebar piringan jari jari 100 cm
  • Tanaman umur 24-36 bulan lebar piringan jari jari 100-125 cm
  • Tanaman umur lebih dari 24 bulan laebar piringan jari jari 200 cm

d. Pasar pikul

Pasar pikul yaitu: Jalan / akses panen yang di buat diantara dua baris tanaman. Pembuatan pasar pikul dilakukan pada persiapan panen, sehingga dapat memudahkan didalam proses pemanenan, terutama pada proses pengangkutan TBS dari dalam blok ke TPH. Lebar pasar pikul pada umumnya adalah 1,5 m.Pasar pikul dapat dibuat dengan cara manual dan mekanik.Dengan cara manual menggunakan babat, sedangkan mekanik dengan menggunakan alat misalnya: dengan rotor slasher.

e. Titi Panen
Titi panen merupakan titian yang di buat sebagai jalan untuk menyebrangi parit dari jalan Collection menuju ke dalam blok. Titi panen ini hanya di gunakan pada kondisi lahan yang antara TPH & pasar pikul terpisahkan oleh parit. Titi panen ini biasanya digunakan pada kondisi lahan Low land, titi panen ini biasa di letakkan pada setiap pasar pikul yang terpisahkan oleh parit.
f. TPH
Tempat pengumpulan hasil ( TPH ) yaitu: Tempat yang di gunakan untuk meletakkan & menyusun buah hasil dari pemanenan. Tiap 1 ha biasanya terdapat 3 buah TPH.Tujuan dari pembuatan TPH yaitu:

  • Memudahkan dalam perhitungan jumlah janjang yang telah di panen.
  • Mempermudah dalam proses pengangkutan buah.

Dalam pembuatan TPH dalam suatu blok dilakukan ketika tanaman akan memasuki masa produksi. Pembuatan TPH dilakukan dengan cara : Meratakan tanah yang akan di buat TPH, bentuk dari TPH yaitu: persegi dengan ukuran 3 x 3 m.

g. Persiapan Alat Kerja

Dalam kegiatan panen Tanaman Kelapa Sawit, hal utama yang paling di butuhkan oleh para pemanen yaitu: Alat kerja yang sering digunakan pada kegiatan panen adalah :

  1. Dodos
  2. Gancu
  3. Angkong
  4. Batu asah
  5. Goni untuk tempat mengumpulkan brondolan
  6. APD (Alat Pelindung Diri) seperti helm, sepatu boot, sarung tanagan dsb.

Alat yang digunakan dalam pemanenan tandan sawit tidak selalu sama, tetapi berbeda menurut umur tanaman kelapa sawit. Adapun pembagian alat panen adalah sebagai berikut :

  • Dodos kecil (8 cm): umur tanaman 3-4 tahun
  • Dodos besar (14 cm): umur tanaman 4-8 tahun
  • Egrek Fiber 1 batang (6 m): umur tanaman 9-15 tahun
  • Egrek Fiber 2 batang (12 m): umur tanaman 16-20 tahun

Gbr 2. Alat panen tanaman muda

B. Kriteria Tanaman Menghasilkan

Buah sawit yang dapat dipanen adalah buah yang matang. Buah sawit memerlukan waktu lebih kurang 5,5 – 6 bulan untuk dapat terbentuk dari bunga menjadi tandan buah sawit yang matang dan dapat dipanen.Tanaman kelapa sawit umumnya akan memasuki masa TM setelah umur 30-36 bulan tergantung varietas dan pemeliharaan. Suatu areal sudah dapat dipanen apabila :
a) Kerapatan panen telah mencapai 60 %
b) Berat TBS > 3 kg
c) Penyebaran panen minimal 1 : 5
d) Tandan matang
| Warna buah orange kemerahan
| Sudah ada buah yang lepas (membrondol)
a) Kerapatan Matang Panen (KMP)
Kerapatan panen adalah angka persentase jumlah pohon yang memiliki tanda buah yang sudah matang panen dalam suatu areal pertanaman belum menghasilkan (TBM). Untuk mengetahui kerapatan panen tersebut, maka dilakukan pemeriksaan dan pencatatan jumlah pohon yang sudah memiliki tandan buah matang panen dari setiap petak tanaman yang terdapat dalam areal TBM tersebut. Bila terdapat lebih dari 60% atau lebih pohon yang mempunyai tandan matang panen, maka petak tersebut dinyatakan menjadi tanaman menghasilkan (TM).


b) Bobot rata-rata tandan
Setiap tandan yang sudah matang panen diambil secara acak dari setiap hektar tanaman kemudian ditimbang. Jika rata-rata bobot telah lebih dari 3 kg maka panenan dapat dilakukan dan diteruskan dengan pemeriksaan penyebaran panen. Bila bobot rata-rata tandan masih di bawah 3 kg, panen harus ditangguhkan, karena tandan kecil secara teknik tidak dapat diolah pabrik sehingga tidak mempunyai nilai ekonomis.
c) Kerapatan sebaran panen
Kerapatan sebaran panen adalah angka yang menyatakan jumlah pohon yang telah memiliki tandan matang panen dalam baris tanaman pada satu petak (blok) tanaman sawit. Angka ini penting diketahui untuk efisiensi pemanenan, karena menyangkut jarak (ruang) dan waktu yang dibutuhkan untuk memanen.
d) Derajat Kematangan Buah
Mutu minyak buah biasanya dinyatakan sebagai persentase minyak tandan. Untuk tujuan praktis disebut rendemen minyak atau nisbah ekstraksi. Rendemen minyak (RM) yang diperoleh di pabrik sangat dipengaruhi oleh standar kematangan buah yang mana buah berubah warna dari hitam menjadi merah orange hingga terjadi kematangan penuh.
Matang panen kelapa sawit dapat dilihat secara visual dan secara fisiologi. Secara visual dapat dilihat dari perubahan warna kulit buah menjadi merah jingga, sedangkan secara fisiologi dapat dilihat dari kandungan minyak yang maksimal dan kandungan asam lemak bebas yang minimal.

Pada saat matang tersebut dicirikan pula oleh membrondolnya buah. Kriteria tandan buah yang masak pada tanaman muda dan tanaman menghasilkan sedikit berbeda. Pada tanaman muda yang baru pertama kali dipanen, kriteria matang tandan matang panen berupa 1-2 brondolan per tandan digunakan mengingat tandan masih kecil dan cepat masak. Standar ini harus disesuaikan berdasarkan kondisi iklim setempat dan pengalaman pekerja.

Tabel 1. Kriteria panen

Fraksi% jumlah brondolanDerajat kematangan
00Tidak ada, buah masih hitamBuah cengkir
0Membrondol > 5Buah mentah
1Membrondol 5 s/d 10Layak panen
2Membrondol s/d 20Layak panen
3Membrondol 50-75 %Matang II
4Membrondol 75-100 %Lewat matang I
5Buah dalam ikut membrondolBuah busuk

C. Panen

Merupakan tujuan utama dari pembudidayaan tanaman Kelapa Sawit.
Hal- hal yang di lakukan dalam kegiatan panen yaitu :
1. Ancak Panen
Dalam pengelolaan areal yang cukup luas, pelaksanaan panen harus di atur dengan pembagian arel pada suatu blok.
Ancak panen adalah suatu arel dengan luas tertentu yang di kelompokkan dalam satu hari panen, yang di beri urutan nomor pada suatu blok. Pembagian ancak panen dengan tujuan :
* Untuk mempermudah pengawasan para pemanen.
* Para pemanen telah mempunyai lokasi masing- masing untuk di panen.
* Mempermudah pemberian sanksi untuk para pemanen.
* Mudah dilakukan pemeriksaan panen.
Pembagiaan ancak panen pada suatu blok di sesuaikan dengan arel / luas lahan yang akan di bagi sesuai dengan jumlah pemanen yang di butuhkan. System pembagian ancak pemanen , meliputi :

i. Ancak Tetap
Yaitu : pemanen dan lokasi tetap tidak perlu di giring ke arah tertentu. Kebaikan ancak tetap yaitu : Pemanen tidak berpindah pindah sehingga penggunaan waktu lebih efektif dan pencatatan TBS lebih mudah.
– Kelemahan ancak tetap yaitu :
– Adanya areal yang tidak terawasi oleh mandor,
– Akan terjadi sebagian ancak yang tidak tembus , sementara di lain tempat ada yang kekurangan ancak,
– Pengangkutan TBS ke TPH relatif lebih lambat.

ii. Ancak Giring
Adalah sistem ancak panen yang di lakukan dengan cara memberikan suatu ancak kepada pemanen setiap hari panen yang perpindahannya dari suatu ancak ke ancak berikutnya dengan cara digiring.

Kebaikan dari ancak ini yaitu :
 Buah akan lebih cepat sampai di TPH
 Ancak akan lebih bersih , karena pengawasan lebih efektif.
Kelemahan ancak giring yaitu : perpindahan akan menambah beban waktu & jarak tempuh bagi pemanen serta kurangnya tanggung jawab para pemanen.

2. Rotasi panen

Pada kegiatan panen hal penting yang tidak boleh di lupakan dalam proses pemanenan yaitu : Rotasi panen. Rotasi panen adalah jangka waktu antara pelaksanaan panen suatu hari tertentu dengan pelaksanaan panen berikutnya di lokasi yang sama.

Tujuan dari rotasi panen yaitu: Untuk memperoleh tandan sesuai dengan tingkat kematangan yang diinginkan. Dalam suatu blok yang di panen rotasi normal potongan buah adalah 6 / 7. Artinya 6 hari efektif dalam 7 hari. Jadi setelah 7 hari, pemanen harus memanen di blok/ daerah pertama dan begitu seterusnya.

3. AKP ( Angka Kerapatan Panen )

Tujuan dari AKP yaitu : Untuk mendapatkan estimasi jumlah janjang yang akan dipanen, untuk mengetahui jumlah tenaga kerja yang di butuhkan dan untuk menentukan angkutan yang di butuhkan.

Cara mencari estimasi jumlah janjang dengan rumus sebagai berikut :
Estimasi janjang = AKP x Jumlah pokok panen

AKP dapat diperoleh dengan cara: Sensus buah. Sensus buah dilakukan 1 hari sebelum dilaksanakan pemanenan pada suatu blok. Dalam sensus Buah dilakukan dengan cara : Menentukan pokok yang akan dijadikan sebagai sampel, Menghitung jumlah buah yang membrondol pada pokok sampel.

Menghitung Persentase Kerapatan Buah, denagan rumus sebagai berikut :
AKP = Jumlah Janjang x 100%
Jumlah pokok

Kemudian setelah diketahui angka kerapatan panen dalam suatu blok, kerapatan juga bisa digunakan untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang di butuhkan. Menghitung kebutuhan Tenaga kerja, dengan rumus sebagai berikut:
Tenaga Kerja = Jumlah Tenaga x Persentase
Basis ( Target )

Basis borong ( Kg TBS/Hk ) ditetapkan berdasarkan potensi tanaman dalam RKAP tahun berjalan dan topografi areal.Berikut adalah BB untuk areal rata

Potensi (Ton/ha/thn)Semester ISemester IIRata-rata
<8320380350
8 – 10 410490450
10 – 12450550500
12 – 15540660600
15 – 18590710650
> 18630770700

4. Teknis Panen

Pada kegiatan panen ini hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam proses pemanenan yaitu : Teknis Panen. Teknis Panen dilakukan dengan cara :

  • Mengambil buah matang
  • Yaitu : buah yang siap panen yang telah membrondol antara 3-5 brondolan pada setiap pokok.
    • APD
    • Brondolan
    • Dodos
  • Memotong tangkai buah atau tandan sampai mepet ke batang.membentuk huruf V.
  • Setelah janjangan di turunkan, Brondolan yang terlepas dari janjangan & berserak di piringan harus di kutip hingga bersih & di kumpulkan dalam karung. Buah / janjang yang telah terkumpul kemudian di susun di TPH menggunakan angkong & tangkai tandan yang masih panjang harus dipotong cangkem kodok < 3 cm dan ditulis nomor pemanennya. Gagang yang terlalu panjang dapat menimbulkan kerugian minyak.
  • Tandan buah yang telah tersusun di TPH harus di hitung sebelum pengangkutan ke PKS.
  • Hancak perlu di periksa untuk memastikan tidak ada buah tinggal di pokok maupun di gawangan, serta brondolan yang belum di kutip. Dalam proses pemanenan perlu adanya organisasi panen yang bertujuan untuk memudahkan dalam pengawasan & pembagian / distribusi kerja.
  • Petugas yang terkait dalam pelaksanaan panen adalah :
    • Mandor panen – Seorang mandor panen membawahi 15-20 pemanen.Tugas mandor panen adalah mengatur ancak pemanen sehingga dalam setiap hari panen ancak dapat diselesaikan dan memeriksa ketuntasan ancak dan buah setiap hari.
    • Kerani buah – Tugas kerani buak adalah untuk menerima tandan di TPH & menghitung jumlah tandan yang telah di panen dan melakukan kerjasama & koordinasi kerja dengan pengendara angkutan.
    • Pemanen adalah petugas yang melaksanakan pemotongan tandan (panen) di areal yang telah di tetapkan sesuai ancak.

D. Pasca Panen

Setelah kegiatan panen selesai dilaksanakan, masih terdapat kegiatan yang lainnya yaitu; Pasca Panen. Hal – hal yang dilakukan pada kegiatan panen ini yaitu:

1) Perhitungan Buah di TPH
Setelah buah atau janjang yang telah di panen & terkumpul , buah kemudian di susun & dihitung di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil ). Tujuan dari perhitungan buah ini yaitu : untuk mengetahui jumlah janjang yang telah di panen.
Perhitungan buah mulai di lakukan pada saat buah mulai di susun oleh para pemanen. Buah dari setiap TPH pemanen harus di hitung kemudian dari hasil setiap TPH , dijumlahkan untuk mengetahui hasil janjang yang telah di panen.

2. Pengangkutan buah dari TPH ke PKS
Buah yang sudah terkumpul di TPH perlu di lakukan pengangkutan ke PKS. Pengangkutan buah ini di lakukan dengan tujuan : Agar buah yang telah di panen dapat segera diproses sesegera mungkin dalam waktu 1 x 24 jam setelah dipanen agar kualitas CPO terjaga.
Teknis pengangkutan dilakkukan dengan cara :
 Buah yang berada di tiap TPH di muat dalam truck.
 Menaikkan janjangan satu persatu ke dalam truck.
 Menyusun janjangan yang telah dinaikkan

3. Perhitungan Ritase

Pada kegiatan pasca panen perlu dilakukan perhitungan ritase / kebutuhan unit transport yang di gunakan untuk pengangkutan TBS. Tujuan dari perhitungan ini , yaitu : Untuk mengetahui jumlah angkutan yang akan di gunakan. Untuk menentukan kebutuhan angkutan yang akan di gunakan dengan cara sebagai berikut :
Menghitung jumlah Tonase , dengan rumus
Jumlah janjang x BJR ( Berat janjang rata- rata )

Untuk mengetahui angkutan yang di butuhkan dengan cara :
Total Tonase
Total Tonase angkutan rata – rata

4. Pemeriksaan Ancak
Pemeriksaan ancak perlu di lakukan dengan tujuan : untuk meningkatkan mutu panen. Materi yang di periksa , meliputi:
a. Kriteria panen
Buah yang di panen harus buah yang brondol. Brondolan yang berada di piringan, pasar pikul, maupun gawangan harus di kutip.
b. Pemotongan pelepah
· Pemotongan pelepah penyangga pada saat panen di bolehkan hanya pada areal tanaman yang sudah di tunas pemeliharaan rutin , sedangkan di areal yang belum di tunas pemotongan pelepah tidak di benarkan,
· Pemotongan selain pelepah penyangga tidak dibenarkan,
· Pada waktu pemotongan tandan agar di usahakan tidak melukai batang.
d. Pemeriksaan di ancak meliputi:
· Buah matang tidak di panen,
· Buah mentah di panen,
· Brondolan yang tinggal di sekitar piringan, gawangan & pasar pikul.

Bab IV. Penutup

A. Kesimpulan

  1. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan teknologi.
  2. Untuk teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak yang maksimum dengan kualitas yang paling baik.
  3. Buah yang dipanen itu harus mencapai optimum kematangannya dengan selang panen yang tepat, sesuai kriteria matangnya dan pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan buah sawit.
  4. Rendemen minyak (RM) yang diperoleh di pabrik sangat dipengaruhi oleh standar kematangan buah yang mana buah berubah warna dari hitam menjadi merah oranye hingga kematangan penuh.
  5. Hasil panen dari kebun merupakan tandan buah segar (TBS) yang harus segera diangkut ke pabrik pengolahan untuk mendapatkan hasil minyak kelapa sait yang bermutu tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

http://hendrasagio.blogspot.com/2010/10/blog-post.html. Diakses pada tanggal 13 April 2014
http://rony-bujangjumendang.blogspot.com/2012/01/manajemen-panen-kelapa-sawit-tujuan.html. Diakses pada tanggal 13 April 2014
Fauzi, Y., Y. E. Widyastuti, I. Satyawibawa dan R. Hartono. 2004. Kelapa Sawit. Edisi Revisi.
Suwarto dan Octavianty, Y. 2010. Budi Daya 12 Tanaman Perkebunan Unggulan. Jakarta: Penebar Swadaya
Dinas Perkebunan Dati I Provinsi Sulawesi Tenggara. 1992. Budi Daya Kelapa Sawit. Jayapura: Balai Informasi Irian Jaya
http://www.ipni.net/ppiweb/filelib.nsf/0/22489A10801FCE2748256B4A00183E48/$file/OP%20HB%20Mat%20BI%20p1-8.pdf



Comments

Leave a Reply

Index